BPOM Setujui Obat Generik Dydrogesterone, Buka Akses Lebih Terjangkau bagi Pasangan yang Jalani Program Hamil

Patrazone.com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI resmi menerbitkan izin edar pertama untuk obat generik yang mengandung dydrogesterone di Indonesia. Langkah ini menjadi terobosan penting bagi pasien infertilitas, termasuk pasangan suami-istri yang tengah menjalani program hamil hingga prosedur bayi tabung (IVF).

Kepala BPOM RI, Prof Taruna Ikrar, menegaskan bahwa lembaganya berkomitmen mempercepat akses obat inovatif tanpa mengabaikan aspek keamanan.

“BPOM RI berkomitmen melakukan terobosan dalam proses registrasi obat, termasuk perubahan regulasi dan penguatan inovasi agar ketersediaan obat baru semakin cepat dan tetap memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu internasional,” ujar Prof Taruna, dikutip Rabu (26/11/2025).


Infertilitas Masih Tinggi, Jutaan Pasangan Butuh Penanganan

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2023 menunjukkan 1 dari 6 orang dewasa di dunia pernah mengalami infertilitas. Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI pada 2022 memperkirakan 4–6 juta pasangan di Indonesia mengalami masalah serupa.

Infertilitas dibagi menjadi dua kategori:

Adapun faktor penyebab infertilitas meliputi:


Dydrogesterone: Obat Hormon yang Telah Digunakan 60 Tahun

Dydrogesterone merupakan obat hormon yang telah digunakan secara klinis selama lebih dari enam dekade untuk menangani kondisi akibat defisiensi progesteron, termasuk terapi infertilitas.

Keunggulannya, obat ini tersedia dalam bentuk oral, sehingga lebih nyaman digunakan dan dapat meningkatkan kepatuhan pasien selama terapi.

Dengan hadirnya versi generik, obat ini diharapkan:

Produk generik yang lulus uji tersebut dinyatakan memiliki efek terapeutik yang sama sesuai standar BPOM.


Akses Lebih Terjangkau untuk Pasangan yang Promil

Disetujuinya dydrogesterone generik dipandang sebagai angin segar bagi pasangan yang tengah menjalani program hamil, terutama mengingat biaya terapi kesuburan yang kerap tinggi.

BPOM menegaskan pengawasan terhadap mutu, distribusi, dan keamanan obat akan diperketat, seiring meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan reproduksi di Indonesia.

Patrazone
Exit mobile version