Menaker Dorong Reindustrialisasi untuk Ciptakan Lapangan Kerja dan Dongkrak Produktivitas Nasional

Patrazone.com — Pemerintah mendorong reindustrialisasi dengan menjadikan sektor industri sebagai motor penggerak produktivitas nasional, sekaligus memperluas penciptaan lapangan kerja dan memperkuat pertumbuhan ekonomi.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan, peningkatan produktivitas nasional menjadi salah satu prioritas utama pemerintah, terutama melalui penguatan industri manufaktur, khususnya pada segmen industri menengah.

“Untuk meningkatkan produktivitas nasional, industrialisasi menjadi pilihan. Industri manufaktur harus dibangkitkan kembali. Karena itu pemerintah melakukan intervensi, terutama pada industri menengah, agar produktivitasnya meningkat,” ujar Yassierli dalam keterangan resmi, Jumat (12/12/2025).

Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara “Produktif & Inovatif: Membangun Karier, Mencipta Karya, Menginspirasi Negeri”, hasil kolaborasi Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII), yang digelar di Balai Sidang Universitas Indonesia, Depok, Kamis (11/12/2025).

Produktivitas Lewat Peningkatan SDM dan Industrialisasi

Yassierli menjelaskan, upaya peningkatan produktivitas dilakukan melalui dua pendekatan utama. Pertama, peningkatan produktivitas di tingkat perusahaan, antara lain melalui peningkatan keterampilan tenaga kerja dan kualitas manajemen. Kedua, peningkatan produktivitas antar sektor melalui industrialisasi yang mampu meningkatkan kompleksitas dan nilai tambah produk.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kemnaker telah mengembangkan Kalkulator Produktivitas untuk mengukur tingkat produktivitas perusahaan sebelum dan sesudah intervensi berupa konsultansi peningkatan produktivitas.

“Produktivitas diukur sebelum intervensi, kemudian diukur kembali setelah pendampingan menggunakan kalkulator produktivitas,” kata Yassierli.

Reindustrialisasi Kuatkan Mesin Pertumbuhan Ekonomi

Ketua Umum PII Ilham Akbar Habibie menyatakan, reindustrialisasi merupakan kunci untuk menguatkan kembali mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurutnya, reindustrialisasi bukan sekadar membangun industri baru, tetapi menata ulang dan mempercepat transformasi industri melalui perbaikan proses dan pemanfaatan teknologi.

“Indonesia Emas 2045 menuntut kita tidak hanya menjadi pasar, tetapi menjadi produsen yang menciptakan nilai tambah, memperkuat industri manufaktur, dan membangun rantai pasok yang tangguh,” ujar Ilham.

Ia menambahkan, peningkatan daya saing nasional dapat dicapai melalui peningkatan kualitas produk dan efisiensi biaya, sekaligus membuka lapangan kerja bernilai tambah yang lebih luas.

Tantangan Inovasi dan Transisi Hijau

Ilham juga menekankan pentingnya mengembangkan industri yang selaras dengan transisi hijau, hemat energi, rendah emisi, serta berbasis ekonomi sirkular.

Sementara itu, pakar industri dan teknokrat Mathiyas Thaib menyampaikan bahwa peningkatan efisiensi, efektivitas, dan produktivitas mensyaratkan inovasi yang berkelanjutan. Namun, inovasi membutuhkan ruang pengembangan yang tidak terkungkung oleh prosedur dan standarisasi yang terlalu kaku.

“Ini memang terkesan seperti revolusi. Tapi itulah yang dibutuhkan jika ingin inovasi yang benar-benar meningkatkan produktivitas,” ujar Mathiyas.

Hadirkan Pelaku Industri dan Akademisi

Acara tersebut dihadiri ratusan pelaku industri, akademisi, dan mahasiswa. Sejumlah tokoh turut hadir, antara lain Group CEO Paragon Corp Herman Subakat, Founder SKHA Consulting Herianto Pribadi, serta CEO Mizan Content & Publishing Group Ali Zaenal Abidin, bersama pimpinan perguruan tinggi dan pengurus PII.

Patrazone
Exit mobile version