Patrazone.com – Sepanjang 2025, sektor manufaktur Indonesia menghadapi berbagai tantangan klasik dan baru, mulai dari praktik premanisme di kawasan industri, gangguan pasokan gas, hingga tekanan produk impor murah. Gangguan ini tidak hanya menghambat kelancaran produksi, tetapi juga memengaruhi iklim investasi di Tanah Air.
Premanisme Mengintai Proyek Strategis
Awal tahun, sejumlah pelaku usaha di kawasan industri Jawa Barat dan Banten melaporkan tekanan dari kelompok yang mengatasnamakan organisasi masyarakat. Tekanan berupa permintaan “jatah proyek”, pemaksaan penggunaan jasa tertentu, hingga intimidasi ini menyasar proyek strategis, termasuk investasi asing yang menjadi motor pertumbuhan industri nasional.
Kasus mencuat di proyek strategis nasional PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), pabrik kimia CA-EDC senilai Rp15 triliun di Cilegon. General Manager Legal & Corporate Secretary TPIA, Erri Dewi Riani, menjelaskan, kontraktor China Chengda Engineering mendapat tekanan agar memberikan pekerjaan tanpa proses lelang. Hal ini berpotensi mengganggu standar pembangunan dan good corporate governance proyek.
Sebelumnya, proyek pabrik kendaraan listrik BYD di Subang, Jawa Barat, juga sempat menghadapi gangguan dari kelompok ormas. Namun, menurut Head of Marketing, PR & Government BYD Indonesia Luther T. Panjaitan, pembangunan pabrik tetap berjalan sesuai timeline, dengan kapasitas produksi 150.000 unit per tahun dan total investasi lebih dari US$1 miliar.
Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menegaskan, praktik premanisme tidak boleh menghambat investasi strategis dan penciptaan lapangan kerja. Aparat penegak hukum dan pemerintah daerah berkomitmen menjaga keamanan proyek-proyek industri penting.
Gangguan Pasokan Gas Menghambat Produksi
Agustus 2025, industri pengguna gas di Jawa Barat dan Sumatra terdampak unplanned shutdown kontraktor hulu migas, memicu pembatasan penggunaan gas hingga 48%. Sejumlah pabrik bahkan menghentikan produksi sementara. Ketua Umum IRGMA Rudy Ramadhan menyebut penurunan tekanan gas mengganggu operasional pabrik di Tangerang.
Namun, pada akhir Agustus, PGN memastikan pasokan gas kembali normal 100% setelah pengalihan alokasi oleh SKK Migas, sehingga produksi industri kembali lancar.
Kontraksi dan Pemulihan PMI Manufaktur
Sektor manufaktur juga menghadapi tekanan global akibat kebijakan tarif AS. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada April 2025 anjlok ke 46,7, menandakan kontraksi, terburuk sejak Agustus 2021. Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menilai kontraksi ini akibat respons pasar terhadap kebijakan tarif Trump.
PMI berangsur pulih ke level 53,3 pada November 2025, menunjukkan kesehatan sektor manufaktur mulai membaik.
Produk Impor Murah Menekan Industri Baja
Industri baja konstruksi nasional dihantam serbuan produk impor dari China dan Vietnam. Indonesian Society of Steel Construction (ISSC) menggelar aksi damai di Jakarta pada Oktober 2025, menuntut pemerintah membatasi impor yang merugikan industri lokal. Ketua Umum ISSC Budi Harta Winata menekankan praktik mafia impor merugikan pengusaha, mengurangi proyek lokal, dan memicu PHK di Karawang, Cikarang, Subang, dan Batang.
Akhir Riwayat Sritex
Di awal tahun, PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) dan tiga anak usaha berhenti beroperasi per 1 Maret 2025 setelah dinyatakan pailit pada Oktober 2024. Lebih dari 10.000 pekerja terdampak PHK, menandai salah satu kasus terbesar dalam sejarah industri tekstil nasional.
Meski menghadapi tekanan berbagai sisi, industri manufaktur Indonesia terus berupaya menjaga kelangsungan produksi dan investasi. Kasus-kasus sepanjang 2025 menjadi peringatan penting agar iklim investasi tetap aman, regulasi ditegakkan, dan inovasi industri terus didorong.
