Patrazone.com – Industri keramik nasional menunjukkan sinyal pemulihan kuat. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menargetkan tingkat utilisasi produksi mencapai 80 persen pada 2026, naik signifikan dari posisi 66 persen pada 2024.
Ketua Umum Asaki Edy Suyanto menyebut, sepanjang 2025 kinerja industri terus membaik dengan tingkat utilisasi produksi mencapai 73 persen. Tren positif ini menempatkan Indonesia dalam posisi strategis di peta industri keramik global.
“Indonesia menjadi satu-satunya negara produsen keramik, baik di Asia, Eropa, maupun Amerika, yang mampu mencatatkan pertumbuhan utilisasi produksi sekaligus peningkatan kapasitas sepanjang 2025,” ujar Edy dalam keterangan resmi, Sabtu (3/1/2026).
Produksi Tumbuh, Indonesia Makin Kompetitif
Sepanjang 2025, total produksi keramik nasional bertambah sekitar 62 juta meter persegi, atau tumbuh 15 persen dibandingkan realisasi 2024. Edy menilai capaian tersebut tak lepas dari peran aktif pemerintah melalui kebijakan pro-industri.
Sejumlah kebijakan seperti antidumping, safeguard keramik, serta penerapan SNI wajib dinilai efektif menjaga daya saing produsen dalam negeri di tengah tekanan global.
“Kebijakan Kementerian Perindustrian sangat strategis, tepat sasaran, dan pro industri. Termasuk perpanjangan HGBT, SNI wajib keramik, hingga rencana entry point untuk produk impor,” tegas Edy.
Target Produksi 2026 dan Harapan Sektor Properti
Pada 2026, Asaki membidik volume produksi sekitar 537 juta meter persegi, tumbuh 13 persen dibandingkan realisasi 2025 sebesar 474,5 juta meter persegi.
Pelaku industri juga menaruh harapan besar pada Program 3 Juta Unit Rumah. Jika terealisasi optimal, utilisasi produksi industri keramik nasional berpotensi melonjak dari target 80 persen menjadi 96 persen.
Tantangan: Gas, Impor, dan Bahan Baku
Meski optimistis, Asaki mengingatkan sejumlah tantangan serius. Salah satunya adalah keterbatasan pasokan gas. Industri keramik di Jawa Barat saat ini hanya memperoleh sekitar 60 persen pasokan gas, sementara Jawa Timur berkisar 50–55 persen, meski sudah menggunakan skema HGBT US$7 per MMBTU.
Kekurangan pasokan harus ditutup dengan gas berskema surcharge mahal hingga US$15,4 per MMBTU, yang menekan biaya produksi.
Selain itu, impor keramik sepanjang 2025 juga melonjak, terutama dari India (55 persen), Vietnam (32 persen), dan Malaysia (210 persen). Untuk merespons hal ini, Asaki akan bekerja sama dengan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) guna menginisiasi penyelidikan dumping produk keramik asal India pada semester I-2026, serta menelusuri dugaan transhipment produk China melalui Malaysia.
Masalah lain yang tak kalah krusial adalah kelangkaan bahan baku tanah di Jawa Barat akibat pencabutan sejumlah izin tambang.
“Kami berharap pemerintah memberi perhatian serius agar ketersediaan bahan baku tetap terjaga,” kata Edy.
Momentum Krusial 2026
Dengan peluang besar sekaligus tantangan yang kompleks, Edy menilai 2026 akan menjadi momentum krusial bagi industri keramik nasional untuk melangkah menuju pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.
