Patrazone.com – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan tingkat kesuksesan startup nasional mencapai 8 persen pada 2026. Target tersebut tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 sebagai bagian dari strategi penguatan ekonomi digital Indonesia.
Indikator utama yang digunakan adalah success rate startup, yakni persentase startup aktif yang mampu mencapai stabilitas bisnis, ditandai dengan pendapatan yang stabil atau meningkat dalam periode satu tahun.
Berdasarkan data Komdigi, pada 2024 tingkat kesuksesan startup nasional masih berada di kisaran 1–5 persen. Pemerintah pun memasang target bertahap: 7 persen pada 2025, 8 persen pada 2026, lalu meningkat hingga 15 persen pada 2029.
Garuda Spark Jadi Instrumen Utama
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyebut Komdigi mengandalkan Garuda Spark sebagai platform utama untuk memperkuat ekosistem startup nasional.
Melalui Garuda Spark, pemerintah menyediakan beragam program, mulai dari pelatihan, pengembangan talenta digital, hingga penghubung dengan calon investor, yang terintegrasi dalam satu wadah.
“Talenta lokal yang sudah ada juga kita harapkan bisa dirangkul melalui wadah bernama Garuda Spark,” ujar Meutya, Senin (5/1/2026).
Kontribusi Startup dan Tantangan Struktural
Dalam Rencana Strategis (Renstra) Komdigi 2025–2029, startup disebut telah berkontribusi sekitar 4 persen terhadap PDB nasional. Indonesia juga menempati peringkat ke-36 dari 119 negara dalam Global Startup Ecosystem Index 2024.
Namun, Komdigi mencatat sejumlah tantangan struktural yang masih menghambat keberlanjutan startup. Lebih dari 57 persen startup masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama di wilayah Jabodetabek, Malang, dan Bandung.
Sekitar 48,1 persen startup masih berskala mikro dan menghadapi keterbatasan infrastruktur, sumber daya manusia terampil, serta akses ke inkubator dan industri. Sementara itu, 70 persen pendanaan startup digital masih berpusat di Jabodetabek.
Pendanaan dan Kualitas Startup Jadi Sorotan
Akses pendanaan menjadi tantangan utama lainnya. Data Renstra menunjukkan 34,1 persen startup mengalami kendala permodalan. Meski investasi asing ke Indonesia meningkat, pendanaan startup justru anjlok pada 2022, dari US$11,35 miliar menjadi US$3,69 miliar.
Kondisi tersebut diperparah oleh kualitas startup yang dinilai belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi investor, sehingga investor cenderung lebih selektif.
Komdigi juga menyoroti potensi angel investor yang belum tergarap optimal akibat rendahnya awareness. Untuk itu, pemerintah mendorong penguatan jejaring investasi dan forum networking.
Inovasi dan Talenta Digital Masih Terbatas
Dari sisi inovasi, sekitar 32,7 persen startup masih bergerak di bidang general dengan daya saing rendah. Keterbatasan riset dan pengembangan juga terlihat dari jumlah creative hub yang baru mencapai 166 unit, mayoritas terpusat di Jakarta, Bandung, dan Bali.
Selain itu, dari 389 lembaga inkubator, hanya 14 yang tersertifikasi. Ketersediaan talenta digital pun menjadi tantangan krusial. Sekitar 90 persen perusahaan menilai tenaga kerja digital belum sesuai kebutuhan industri, sementara 52 persen kesulitan menemukan pekerja dengan keterampilan digital yang tepat.
Kapasitas founder, talenta teknis, serta mindset global dan kecepatan adaptasi teknologi dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing startup nasional.
