Patrazone.com — Pernah merasa “mager” alias malas gerak saat pergi ke mal, lebih memilih naik lift atau eskalator daripada tangga? Anda bukan satu-satunya. Sebuah penelitian global menemukan jutaan orang berjalan kaki jauh di bawah anjuran kesehatan harian.
Para peneliti dari Stanford University menganalisis data ponsel pintar lebih dari 700.000 orang di 46 negara untuk memetakan aktivitas harian. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature mengungkap tren mengejutkan: beberapa negara bahkan rata-rata hanya menempuh sedikit di atas 3.500 langkah per hari.
Faktor seperti cuaca panas, lalu lintas padat, urbanisasi cepat, dan ketergantungan pada transportasi bermotor menjadi penghambat utama aktivitas fisik. Peneliti menyarankan peningkatan perencanaan kota, sistem transportasi, dan inisiatif kesehatan publik untuk mendorong masyarakat lebih banyak bergerak.
Indonesia Paling Sedikit Berjalan
Dalam daftar delapan negara termalas berjalan kaki, Indonesia menempati peringkat pertama. Rata-rata penduduk hanya menempuh 3.513 langkah per hari, menjadikannya yang paling tidak aktif di antara negara-negara yang diteliti.
Arab Saudi berada di urutan kedua dengan 3.807 langkah per hari, disusul Malaysia (3.963 langkah) dan Filipina (4.008 langkah). Iklim panas dan kepadatan kota disebut sebagai penyebab utama rendahnya aktivitas fisik.
Negara Lain dengan Aktivitas Rendah
Berikut rangkuman negara termalas berikutnya:
- Afrika Selatan: 4.105 langkah/hari, dipengaruhi urbanisasi dan perbedaan wilayah.
- Mesir: 4.315 langkah/hari, kendala cuaca panas dan lalu lintas padat.
- Brasil: 4.289 langkah/hari, dipengaruhi perbedaan sosial ekonomi.
- India: 4.297 langkah/hari, tingginya ketergantungan transportasi bermotor di kota besar.
Para peneliti menekankan bahwa selain faktor lingkungan, gaya hidup modern dan kemudahan transportasi membuat masyarakat cenderung kurang bergerak, sehingga berisiko terhadap kesehatan seperti obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.
Aksi untuk Perubahan
Meski hasilnya mengejutkan, ada langkah yang bisa ditempuh: memanfaatkan transportasi aktif, seperti berjalan kaki ke toko atau halte transportasi, menaiki tangga, atau olahraga ringan setiap hari. Perencanaan kota dan kebijakan publik yang ramah pejalan kaki juga disebut krusial untuk membangun kebiasaan sehat.
“Masyarakat perlu disadarkan bahwa berjalan kaki tidak hanya menyehatkan tubuh, tapi juga meningkatkan kualitas hidup dan mencegah penyakit kronis,” kata salah satu peneliti Stanford University.
