Patrazone.com — Konflik antara Amerika Serikat dan Iran memasuki minggu kedua, dengan eskalasi baru yang memusatkan perhatian pada ranjau laut dan drone serang Iran. Jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz kini menjadi medan ketegangan yang bisa berdampak pada pasokan energi global.
Selat Hormuz, jalur laut vital bagi perdagangan minyak dunia, dilewati sekitar 20% suplai minyak global. Di tengah konflik ini, Iran diketahui memanfaatkan ranjau laut sebagai senjata murah dan efektif untuk menahan kapal tanker asing. Harga sebuah ranjau laut hanya ribuan dolar per unit, namun cukup menghancurkan kapal niaga besar, termasuk VLCC (Very Large Crude Carrier) atau kapal LNG.
Variasi Ranjau Laut Iran yang Mematikan
Iran memiliki berbagai jenis ranjau, mulai dari ranjau apung/terhanyut (drifting), ranjau tambat di dasar laut (moored contact mines), ranjau dasar laut (bottom mines), hingga ranjau vertikal seperti EM-52 yang melesat ke permukaan saat sensor mendeteksi kapal. Beberapa ranjau modern membawa bahan peledak 125 kg hingga lebih dari 1.000 kg, cukup untuk melumpuhkan kapal sekelas kapal tanker raksasa.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, menegaskan bahwa pasukan Amerika saat ini menargetkan kapal-kapal Iran yang menebar ranjau, termasuk fasilitas penyimpanan ranjau laut. “Operasi ini masih berlangsung dan menjadi fokus utama kami,” ujar Caine.
Ancaman Nyata bagi Jalur Energi Global
Sejak serangan udara dan rudal AS dan Israel dimulai pada 28 Februari, Iran disebut membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Beberapa kapal yang mencoba melintas dilaporkan menjadi sasaran. Iran diperkirakan memiliki hingga 6.000 ranjau laut yang siap digunakan untuk menutup jalur vital ini.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan prioritas pemerintahannya: menjaga Selat Hormuz tetap terbuka. Trump juga memperingatkan Iran bahwa AS akan mengambil tindakan tegas jika aliran minyak terganggu. Angkatan Laut AS siap mengawal kapal tanker jika diperlukan.
Perluasan Serangan ke Industri Drone Iran
Selain ranjau laut, militer AS kini menargetkan fasilitas produksi drone serang satu arah Iran. Drone ini dirancang untuk menghantam target secara otomatis, sehingga menghancurkan fasilitas produksinya dianggap strategis untuk melemahkan kemampuan Iran melancarkan serangan di masa depan.
Meski begitu, Caine tidak merinci jumlah pabrik yang telah dihancurkan maupun tingkat kerusakannya. “Kami akan terus menargetkan fasilitas militer dan industri Iran untuk mencegah ancaman terhadap AS, sekutu, dan kepentingan kami di kawasan,” ujarnya.
Operasi Epic Fury: Titik Awal Konflik
Konflik ini bermula ketika militer AS melancarkan serangan udara dan rudal dalam operasi bernama Operation Epic Fury. Iran merespons dengan meluncurkan ribuan drone ke negara-negara mitra AS di Timur Tengah, yang sebagian berhasil ditembak jatuh oleh pesawat tempur dan helikopter serang.
Kini, ketegangan meningkat. Selat Hormuz yang semula menjadi jalur perdagangan rutin, kini menjadi simbol geopolitik dan strategi militer, di mana harga minyak dunia dan keamanan maritim global dipertaruhkan.
