Nirina Zubir Jadi Ibu 70 Tahun di “Jangan Buang Ibu”: Dari Surat Cinta untuk Anak, Berubah Jadi Rindu untuk Ibu

Patrazone.com — Pagi masih gelap ketika Nirina Zubir sudah duduk di kursi rias. Bukan untuk tampil cantik seperti biasanya, melainkan untuk “menua”.

Selama hampir empat jam, lapisan demi lapisan makeup mengubah wajahnya menjadi seorang perempuan berusia 70 tahun. Keriput, garis halus, hingga sorot mata yang lelah—semuanya dibangun perlahan.

“Itu sebelum orang lain datang. Baru ngerti artinya pre-call,” ujarnya sambil tersenyum.

Namun, tantangan terbesar ternyata bukan pada fisik. Melainkan pada rasa.

Peran yang Awalnya Ditolak Hati

Dalam film Jangan Buang Ibu, Nirina memerankan Ristiana—seorang ibu tunggal yang harus membesarkan tiga anak setelah ditinggal suami.

Di usia senja, Ristiana justru menghadapi kenyataan pahit: diabaikan oleh anak-anaknya sendiri, hingga akhirnya harus tinggal di panti jompo.

Cerita itu sederhana, tetapi menghantam.

Nirina mengaku sempat ragu menerima peran tersebut. Bukan karena naskahnya, tetapi karena jarak pengalaman yang begitu jauh.

“Kalau memerankan sesuatu yang belum kita alami, itu rasanya ‘bagaimana ya?’,” katanya.

Memainkan karakter lansia bukan sekadar akting. Ia harus “meminjam” emosi yang belum pernah ia jalani.

Dari Anak untuk Anak

Saat pertama kali menerima naskah, Nirina justru melihat film ini dari sudut yang berbeda.

Ia menganggapnya sebagai pesan untuk anak-anaknya.

Dengan dua anak yang beranjak remaja, ia membayangkan suatu hari nanti mereka akan menonton film tersebut—dan mengenang ibunya lewat karya.

“Ini seperti surat cinta buat anak-anak aku,” ucapnya.

Sebuah warisan emosional yang tak hanya bisa dilihat, tetapi juga dirasakan.

Namun yang Terjadi Justru Sebaliknya

Di tengah proses syuting, sesuatu berubah.

Alih-alih terus memikirkan anak-anaknya, Nirina justru mulai teringat pada sosok yang lebih dulu hadir dalam hidupnya: ibunya sendiri.

Peran Ristiana membuka kembali memori lama—tentang pengorbanan, kasih sayang, dan perjalanan panjang seorang ibu membesarkan anak.

“Ternyata ini malah jadi surat cinta untuk ibu aku,” katanya pelan.

Ada jeda dalam kalimat itu. Seolah ada rasa yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan.

Film yang Mengingatkan, Bukan Menggurui

Produser Agung Saputra menyebut film ini memang dibuat dengan satu tujuan sederhana: mengingatkan.

Bahwa ibu bukan sekadar sosok, tetapi “rumah”.

“Karena ibu adalah segalanya,” ujarnya.

Pesan itu terasa relevan di tengah realitas modern, ketika hubungan keluarga sering kali tergeser oleh kesibukan dan jarak.

Kedekatan yang Personal

Hal serupa juga dirasakan Yasmin Napper yang terlibat sebagai executive producer.

Baginya, proyek ini terasa personal karena kedekatannya dengan sang ibu.

“Setiap orang punya hubungan dengan ibunya, dalam bentuk apa pun,” ujarnya.

Pernyataan itu sederhana, tetapi universal.

Deretan Pemain dan Cerita yang Dekat dengan Kehidupan

Selain Nirina, film ini juga dibintangi sejumlah aktor dan aktris seperti Refal Hady, Amanda Manopo, Dwi Sasono, hingga Mpok Atiek.

Kisahnya mungkin terdengar akrab: tentang orang tua yang menua, anak-anak yang sibuk, dan jarak yang perlahan tercipta tanpa disadari.

Namun justru di situlah kekuatannya.

Film ini tidak menawarkan cerita besar, melainkan potongan kehidupan yang sering kita abaikan.

Ketika Film Menjadi Cermin

“Jangan Buang Ibu” dijadwalkan tayang pada Juni 2026. Namun sebelum itu, kisah di balik pembuatannya sudah lebih dulu menyentuh.

Bagi Nirina, peran ini bukan sekadar pekerjaan.

Ia menjadi ruang refleksi—tentang masa lalu, masa kini, dan hubungan yang tak pernah benar-benar selesai antara anak dan ibu.

Di akhir hari, setelah makeup dilepas dan kamera berhenti merekam, yang tersisa bukan hanya karakter Ristiana.

Tetapi juga satu kesadaran:

bahwa waktu berjalan cepat, dan cinta seorang ibu sering kali baru benar-benar dipahami ketika kita mulai melihatnya dari jarak.

Dan mungkin, dari film ini, ada lebih banyak orang yang akan pulang—setidaknya, pulang dalam hati.

Patrazone
Exit mobile version