Patrazone.com – Belakangan, media sosial dihebohkan dengan video dua mobil berstiker Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diduga disalahgunakan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Dalam video yang beredar, kendaraan tersebut tampak digunakan untuk menjemput penumpang di Bandara Internasional Lombok dan bahkan berkeliling wisata ke Pantai Malimbu, Lombok Barat.
Fenomena ini langsung memicu sorotan publik. Sebab, mobil SPPG seharusnya hanya digunakan untuk mendistribusikan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), bukan untuk kepentingan pribadi atau rekreasi.
Pihak BGN Masih Menelusuri
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menjelaskan pihaknya telah melakukan verifikasi lapangan terkait video viral tersebut. Namun, proses penelusuran mengalami kendala karena nomor polisi kendaraan tidak terlihat dalam video.
“Gambar yang beredar hanya memperlihatkan tulisan SPPG saja. Kami sudah dua minggu mencari, tapi tidak ada nomor polisi yang bisa diidentifikasi,” ujar Dadan di Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Akibat keterbatasan informasi, BGN belum bisa memastikan asal kendaraan maupun menjatuhkan sanksi.
Sementara itu, Koordinator Regional SPPG BGN NTB, Eko Prasetyo, mengonfirmasi bahwa laporan dugaan penyalahgunaan mobil MBG memang diterima beberapa hari lalu. Seluruh kepala SPPG di Pulau Lombok pun diminta untuk mengidentifikasi kendaraan dalam video. Hasilnya hingga kini nihil, lantaran nomor polisi tak terlihat jelas.
Eko menegaskan, penggunaan mobil SPPG di luar distribusi makanan merupakan pelanggaran aturan tegas.
“Mobil SPPG tidak boleh dipakai ke mana pun selain untuk antar-jemput ompreng. Itu sudah aturan tegas,” tegasnya.
Klarifikasi Pemilik Mobil
Kalsum, pemilik mobil, akhirnya buka suara dan memberikan klarifikasi. Ia menyampaikan permohonan maaf atas kesalahpahaman yang terjadi di masyarakat.
Menurut Kalsum, kendaraan tersebut memang milik pribadi dan belum resmi menjadi bagian dari operasional MBG. Mobil dipersiapkan untuk kerja sama dengan salah satu dapur MBG di Lombok Timur. Sebagai langkah persiapan, stiker MBG telah dipasang pada mobil.
Namun, kerja sama itu belum berjalan karena dapur yang menjadi mitra masih dalam tahap pembangunan sekitar 80 persen. Artinya, mobil belum masuk dalam sistem operasional resmi program MBG.
“Saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada semua pihak atas beredarnya video yang menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat,” ujar Kalsum.
Fenomena ini menjadi pengingat bagi publik dan penyelenggara program pemerintah mengenai pentingnya komunikasi yang jelas, agar program bermanfaat tidak disalahartikan. Dengan klarifikasi Kalsum, diharapkan isu viral ini dapat reda, sekaligus mengembalikan fokus pada tujuan utama MBG: memastikan anak-anak dan masyarakat NTB mendapatkan gizi seimbang melalui distribusi makanan yang tepat sasaran.
