Google Siapkan Data Center AI di Luar Angkasa, Uji Coba Satelit Dimulai 2027

Patrazone.com – Google tengah menyiapkan langkah futuristik yang berpotensi mengubah wajah industri teknologi global. Perusahaan raksasa teknologi ini merancang proyek ambisius bernama Project Suncatcher, yakni membangun pusat data kecerdasan artifisial (AI) di luar angkasa dengan memanfaatkan satelit yang mengorbit Bumi.

Lewat proyek ini, Google berencana menjalankan sistem AI langsung dari orbit rendah Bumi menggunakan satelit bertenaga surya. Satelit tersebut akan dibekali Tensor Processing Unit (TPU)—chip khusus AI buatan Google yang selama ini digunakan di pusat data di Bumi untuk mengoperasikan model AI seperti Gemini.

Tak hanya itu, komunikasi antarsatelit akan dilakukan menggunakan laser berkecepatan tinggi, bukan kabel atau sinyal radio konvensional.

Uji Coba Dua Satelit pada 2027

Dilansir dari Space.com, Rabu (17/12/2025), Google menargetkan peluncuran dua satelit percobaan pada awal 2027. Keduanya akan ditempatkan di orbit rendah Bumi, sekitar 640 kilometer di atas permukaan.

Tahap awal ini bertujuan menguji satu hal krusial: apakah chip TPU mampu bekerja stabil di lingkungan luar angkasa yang ekstrem—penuh radiasi, suhu sangat panas dan dingin, serta risiko kerusakan jangka panjang.

“Dalam satu dekade ke depan, saya tidak ragu pusat data di luar angkasa akan dipandang sebagai hal yang normal,” ujar CEO Google Sundar Pichai.

Mengapa Pusat Data Dipindah ke Luar Angkasa?

Alasan utama Google melirik luar angkasa adalah efisiensi energi. Di Bumi, pusat data AI membutuhkan listrik sangat besar dan sistem pendinginan kompleks. Sebaliknya, di luar angkasa, energi matahari tersedia hampir tanpa henti, tidak terhalang awan atau siklus siang-malam.

Satelit Project Suncatcher akan ditempatkan di orbit khusus yang selalu terpapar sinar matahari, memungkinkan panel surya menghasilkan listrik secara stabil dan berkelanjutan. Konsep ini dinilai lebih efisien dan ramah lingkungan untuk mendukung kebutuhan daya AI yang terus meningkat.

Tantangan Besar: Panas, Radiasi, dan Laser

Meski terdengar menjanjikan, membangun pusat data di luar angkasa bukan tanpa tantangan. Salah satu masalah terbesar adalah pendinginan. Di ruang hampa udara, panas dari komputer tidak bisa dibuang secara alami, sehingga diperlukan radiator besar dan berat.

Tantangan lain datang dari komunikasi laser. Data antarsatelit harus dikirim dengan presisi ekstrem. Sedikit saja kesalahan arah, koneksi bisa terputus karena satelit bergerak sangat cepat.

Belum lagi soal biaya dan perawatan. Berbeda dengan pusat data di Bumi, memperbaiki kerusakan satelit di orbit membutuhkan biaya sangat mahal dan teknologi tingkat tinggi.

Masih Panjang Jalan Menuju Realisasi

Google menegaskan, uji coba dua satelit pada 2027 hanyalah langkah awal untuk membuktikan kelayakan teknologi. Meski eksperimen ini berhasil, pusat data AI berskala besar di luar angkasa diperkirakan baru terwujud dalam puluhan tahun ke depan.

Namun jika sukses, Project Suncatcher berpotensi menjadi solusi atas krisis energi dan kebutuhan komputasi AI global—sekaligus menandai babak baru persaingan teknologi, di mana pusat data tak lagi berpijak di Bumi, melainkan mengorbit di angkasa.

Patrazone
Exit mobile version