Male

Masalah Gigi Masih Diabaikan, Ini 3 Keluhan Terbanyak Keluarga Indonesia Menurut Dokter

Patrazone.com – Masalah kesehatan gigi dan mulut masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Meski sering dialami, perawatan gigi kerap diabaikan—terutama karena alasan biaya dan kebiasaan datang ke dokter hanya saat sudah sakit.

Berdasarkan praktik klinis sepanjang 2025, jaringan klinik AUDY Dental mengungkapkan tiga masalah gigi paling sering dialami keluarga Indonesia. Temuan ini memperlihatkan bahwa kesadaran masyarakat memang mulai tumbuh, namun belum diiringi dengan kebiasaan perawatan yang rutin dan preventif.

1. Susunan Gigi Tidak Rapi (Maloklusi)

Masalah pertama yang paling banyak ditemukan adalah ketidakharmonisan susunan gigi atau maloklusi. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada penampilan, tetapi juga dapat memengaruhi fungsi mengunyah, kebersihan gigi, hingga kesehatan rahang.

CEO AUDY Dental, drg. Yulita Bong, menyebutkan bahwa sepanjang 2025 terjadi kenaikan lebih dari 25 persen pada kasus maloklusi dibandingkan tahun sebelumnya.

2. Gigi Berlubang pada Anak dan Dewasa

Masalah kedua yang masih mendominasi adalah gigi berlubang, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Peningkatan kasus gigi berlubang tercatat sekitar 10 persen dibandingkan 2024.

Menurut Yulita, kondisi ini sangat disayangkan karena sebagian besar kasus gigi berlubang sebenarnya dapat dicegah melalui perawatan rutin dan deteksi dini.

3. Radang Gusi akibat Kurangnya Perawatan Rutin

Masalah ketiga yang kerap muncul adalah radang gusi (gingivitis), yang umumnya disebabkan oleh penumpukan plak dan karang gigi akibat jarangnya pemeriksaan ke dokter gigi.

Rendahnya kebiasaan perawatan preventif, seperti scaling dan kontrol rutin enam bulan sekali, masih menjadi kendala utama di masyarakat.


Data Nasional: Banyak yang Sakit Gigi, Sedikit yang Berobat

Temuan AUDY Dental sejalan dengan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Survei tersebut mencatat bahwa 57 persen penduduk usia 3 tahun ke atas mengalami masalah gigi dan mulut, namun hanya 11,2 persen yang mencari pengobatan ke tenaga medis.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyoroti bahwa ketidakpastian biaya perawatan gigi menjadi salah satu alasan utama masyarakat enggan memeriksakan gigi.


Lebih dari 70 Persen Anak Datang dalam Kondisi Parah

Sepanjang 2025, AUDY Dental mencatat lebih dari 70 persen pasien anak datang ke klinik dalam kondisi gigi yang sudah cukup parah dan membutuhkan penanganan lanjutan.

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak AUDY Dental, Eka Sabaty Shofiyah, menegaskan bahwa perawatan gigi sejak dini sangat krusial.

“Kondisi gigi susu memengaruhi pertumbuhan gigi permanen, struktur rahang, hingga kebiasaan perawatan gigi anak di masa depan. Jika dibiarkan, dampaknya bisa sampai ke rasa percaya diri anak saat dewasa,” ujarnya.


Periksa Rutin Lebih Hemat daripada Datang Saat Sakit

Menjawab kekhawatiran soal biaya, Yulita menekankan bahwa perawatan gigi rutin justru jauh lebih hemat dibandingkan perawatan saat kondisi sudah parah.

Jika rutin memeriksakan gigi setiap enam bulan, biaya biasanya hanya sebatas scaling dengan kisaran ratusan ribu rupiah. Masalah kecil pun bisa langsung ditangani sebelum berkembang.

Sebaliknya, jika datang saat sudah sakit, pasien bisa membutuhkan perawatan saluran akar yang biayanya bisa 4–5 kali lipat dari scaling. Jika kondisi gigi sudah rusak berat dan memerlukan mahkota gigi, total biaya bahkan bisa lebih dari 10 kali lipat.

“Karena itu, kalau bisa rutin periksa, sebaiknya rutin. Lebih sehat dan jauh lebih hemat,” tegas Yulita.


Masalah gigi dan mulut masih menjadi isu serius di Indonesia. Padahal, dengan perawatan rutin dan pencegahan sejak dini, banyak keluhan bisa dihindari sekaligus menekan biaya kesehatan jangka panjang.

Kesadaran sudah mulai tumbuh. Tantangannya kini adalah menjadikan perawatan gigi sebagai kebutuhan rutin, bukan pilihan terakhir saat rasa sakit datang.

author avatar
Patrazone

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button