Mengapa Resolusi Tahun Baru Selalu Dibuat, tetapi Sering Gagal? Ini Penjelasan Psikolog

Patrazone.com – Setiap pergantian tahun, dentang jam tengah malam seolah menjadi aba-aba universal. Jutaan orang di berbagai belahan dunia serempak menyusun resolusi: hidup lebih sehat, keuangan lebih rapi, hingga mencoba kebiasaan baru yang selama ini tertunda.

Ritual ini nyaris tak pernah absen dari perayaan tahun baru. Ada optimisme, harapan, sekaligus keyakinan bahwa lembaran hidup bisa dimulai ulang hanya dengan bergantinya angka di kalender.

Namun, di balik semangat tersebut, ada penjelasan psikologis yang membuat resolusi tahun baru begitu populer—dan ironisnya, kerap kandas di tengah jalan.

Tahun Baru sebagai Simbol Awal yang Segar

Psikolog klinis dari Ellie Mental Health, Terri Bly, menjelaskan bahwa manusia secara alami membutuhkan simbol untuk menandai perubahan. Tahun baru berfungsi sebagai “titik nol” yang memberi ilusi awal yang bersih.

“Manusia membutuhkan sinyal tertentu sebagai momentum untuk menyegarkan kembali hidup mereka. Tahun baru menjadi simbol yang kuat untuk itu,” ujar Bly, dikutip dari VeryWell Mind.

Namun, dorongan membuat resolusi bukan semata kebutuhan pribadi. Ada pengaruh sosial yang kuat di baliknya.

Pakar psikologi sosial dari University of Western Australia, Dr Tim Kurz, menyebut tradisi resolusi tahun baru telah berakar sejak sekitar 4.000 tahun lalu, bermula dari peradaban Babilonia kuno. Kini, kebiasaan itu bertahan karena dorongan kolektif.

“Kita membuat resolusi karena orang lain juga melakukannya. Ada tekanan sosial yang halus namun nyata,” kata Kurz.

Dengan menyampaikan resolusi kepada orang lain, seseorang secara tidak langsung memosisikan dirinya sebagai individu yang ingin menjadi lebih baik. Di sisi lain, muncul rasa tanggung jawab—meski sering kali hanya bersifat semu.

Mengapa Resolusi Tahun Baru Sering Gagal?

Meski diawali antusiasme tinggi, sebagian besar resolusi tak bertahan lama. Menurut Dr Tim Kurz, penyebab utamanya terletak pada cara kerja perilaku manusia.

“Sebagian besar perilaku kita digerakkan oleh kebiasaan otomatis yang dipicu situasi dan lingkungan, bukan oleh proses berpikir sadar,” jelasnya.

Artinya, niat baik sering kalah oleh rutinitas lama yang sudah mengakar. Begitu kembali ke pola hidup sehari-hari, resolusi perlahan terpinggirkan.

Kesalahan lain yang kerap terjadi adalah menetapkan perubahan besar secara instan. Terri Bly menegaskan, manusia tidak dirancang untuk transformasi drastis dalam waktu singkat.

“Ide perubahan besar memang terdengar menarik, tetapi secara biologis dan psikologis, kita tidak dibentuk untuk perubahan menyeluruh sekaligus,” ujarnya.

Alih-alih bertahan, resolusi yang terlalu ambisius justru mudah runtuh karena tidak realistis dan sulit dipertahankan.

Kunci Bertahan: Kecil, Konsisten, dan Sadar

Para ahli sepakat, resolusi akan lebih mungkin berhasil jika difokuskan pada perubahan kecil, bertahap, dan disesuaikan dengan kebiasaan harian. Bukan tentang seberapa besar targetnya, melainkan seberapa konsisten dijalani.

Tahun baru boleh menjadi momentum refleksi, tetapi perubahan nyata tetap ditentukan oleh langkah-langkah kecil yang dilakukan setiap hari—bahkan setelah euforia pergantian tahun berlalu.

Patrazone
Exit mobile version