Mencari Saran Kesehatan dari AI, Seberapa Aman Dipercaya?

Patrazone.com — Fenomena masyarakat mencari informasi kesehatan melalui platform berbasis artificial intelligence (AI) kian meluas. Mulai dari rekomendasi obat flu hingga panduan menangani gejala tertentu, AI kerap dianggap sebagai “dokter instan” yang mudah diakses kapan saja.
Namun, pakar kesehatan dari Griffith University, Dicky Budiman, mengingatkan bahwa meski kehadiran AI di dunia medis tidak terelakkan, penggunaannya tidak boleh dilakukan sembarangan—terutama oleh masyarakat umum.
“AI seharusnya diposisikan sebagai augmentative intelligence, bukan autonomous medical authority. Artinya, AI mendukung keputusan medis, bukan menggantikannya,” ujar Dicky kepada Bisnis, Jumat (16/1/2026).
Boleh untuk Edukasi, Bukan Diagnosis
Menurut Dicky, penggunaan AI masih dapat dibenarkan selama berada dalam ranah edukasi kesehatan berbasis bukti, seperti peningkatan literasi kesehatan, screening awal, hingga pemetaan risiko (risk stratification).
Namun, AI tidak ideal untuk menetapkan diagnosis pasti dan tidak boleh menentukan terapi medis tanpa pengawasan dokter.
“AI belum mampu memahami kondisi klinis secara utuh. Penetapan diagnosis dan pengobatan tetap harus berada di tangan tenaga medis,” tegasnya.
Peran AI dalam Pertolongan Pertama
Dalam konteks pertolongan pertama, terutama di wilayah dengan akses layanan kesehatan terbatas, AI dinilai bisa memberi manfaat nyata sebagai sarana edukasi awal.
Dalam batas tertentu, AI dapat membantu masyarakat mengenali tanda bahaya, memberikan panduan pertolongan pertama yang relatif aman, serta mendorong rujukan cepat ke fasilitas kesehatan bila diperlukan.
“AI bisa menjadi jembatan awal menuju sistem kesehatan formal, tetapi tidak boleh dipandang sebagai pengganti layanan medis,” ujar Dicky.
Dokter Tak Tergantikan oleh AI
Dicky menegaskan, hingga saat ini AI tidak dapat menggantikan dokter, baik dari sisi ilmiah, etika, maupun hukum. Dokter menilai pasien secara menyeluruh—tidak hanya aspek biologis, tetapi juga psikologis, sosial, dan budaya.
Selain itu, dokter memikul tanggung jawab profesional dan hukum, serta menjaga keselamatan dan kepercayaan pasien. Hal-hal tersebut tidak dimiliki oleh AI.
“AI tidak punya kapasitas untuk bertanggung jawab secara etis maupun hukum,” katanya.
Risiko Informasi Keliru
Risiko lain yang perlu diwaspadai adalah potensi informasi keliru, overconfidence bias pada pengguna, serta keterbatasan AI dalam membaca konteks klinis individual. Kondisi ini dapat berujung pada kesalahan interpretasi atau saran yang tidak tepat.
“AI memang bisa membantu memenuhi kebutuhan masyarakat akan akses informasi kesehatan, tetapi bukan sebagai pengganti dokter,” imbuh Dicky.
Gunakan AI dengan Bijak
Dicky mengimbau masyarakat agar memanfaatkan AI sebatas sarana edukasi awal, bukan sebagai dasar pengambilan keputusan medis. Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak menunda kunjungan ke tenaga kesehatan, terutama jika muncul gejala serius.
“Gunakan layanan kesehatan dasar secara rutin. AI boleh membantu, tapi keputusan medis tetap harus melibatkan dokter,” pungkasnya.



