WEF Ingatkan Bahaya Gelembung AI, Dampaknya Bisa Lebih Parah dari Krisis Dotcom 2000

Patrazone.com — World Economic Forum (WEF) mengeluarkan peringatan keras terkait risiko pecahnya gelembung kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang dinilai berpotensi menimbulkan dampak ekonomi global lebih parah dibandingkan krisis gelembung dotcom tahun 2000.

Dalam laporan Global Risks Report 2026 yang dirilis pekan ini, WEF menyoroti meningkatnya kerentanan pasar keuangan dunia akibat ketergantungan berlebihan pada segelintir raksasa teknologi, terutama yang bergerak di bidang AI, komputasi kuantum, dan energi nuklir.

Sebagai pembanding, gelembung dotcom pada awal 2000-an dipicu spekulasi masif terhadap perusahaan internet. Saat itu, indeks NASDAQ melonjak dari sekitar 1.000 poin pada 1995 ke puncaknya di 5.132 poin pada Maret 2000, sebelum akhirnya runtuh dan menggerus triliunan dolar nilai pasar.

Investasi AI Menggunung, Imbal Hasil Masih Tanda Tanya

WEF mencatat, belanja modal global untuk infrastruktur AI telah menembus US$1,5 triliun pada 2025, seiring euforia investor memburu saham-saham teknologi. Namun, laporan tersebut menekankan adanya kesenjangan serius antara ekspektasi dan realisasi.

Menurut WEF, hingga kini belum terlihat secara jelas apakah investasi jumbo tersebut mampu menghasilkan keuntungan yang sepadan.

“Risiko pecahnya gelembung akan meningkat jika pendapatan perusahaan teknologi gagal memenuhi ekspektasi pasar yang sudah terlanjur tinggi,” tulis WEF.

Jika sentimen investor berbalik, koreksi tajam di pasar saham dinilai tak terhindarkan.

Ancaman Sistemik dari Wall Street

WEF memperingatkan, dampak koreksi pasar kali ini bisa jauh lebih besar dibandingkan tahun 2000. Alasannya, eksposur investor global—termasuk dana pensiun—sangat terkonsentrasi di pasar saham Amerika Serikat.

“Jika terjadi penurunan pasar saham AS yang sebanding dengan pecahnya gelembung dotcom, nilai kekayaan yang tergerus bisa jauh lebih besar mengingat skala eksposur saat ini,” tulis WEF, dikutip Sabtu (17/1/2026).

Kondisi tersebut berisiko menimbulkan efek domino global, mulai dari penurunan nilai kekayaan rumah tangga hingga melemahnya permintaan konsumen di berbagai negara.

Tekanan Utang Global Perparah Risiko

Selain gelembung aset teknologi, WEF juga menyoroti ancaman “tembok pembiayaan kembali” (refinancing wall), yakni gelombang jatuh tempo utang pemerintah dan swasta pada periode 2025–2027.

Total utang global kini mencapai US$251 triliun, setara 235 persen dari PDB dunia. Situasi ini membuat ruang fiskal banyak negara—baik maju maupun berkembang—semakin sempit untuk merespons guncangan pasar.

Risiko Stagnasi Ekonomi Berkepanjangan

WEF menilai, tanpa reformasi struktural dan kebijakan fiskal yang hati-hati, ekonomi global berisiko terperosok ke dalam periode pertumbuhan rendah berkepanjangan.

“Pemerintah perlu menerapkan kehati-hatian fiskal, memprioritaskan belanja yang lebih efisien, serta mendorong reformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan,” tegas WEF.

Peringatan dari Davos ini menjadi sinyal bahwa euforia AI, meski menjanjikan masa depan teknologi, tetap menyimpan risiko besar jika tidak diimbangi fundamental ekonomi yang kuat.

Patrazone
Exit mobile version