Patrazone.com — Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Namun, kekayaan itu tidak hanya terlihat dari hutan, laut, atau satwa endemik. Di balik yang kasat mata, Indonesia menyimpan keragaman mikroba luar biasa yang hingga kini masih belum banyak dieksplorasi.
Guru Besar Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof. Antonius Suwanto, menyebut dunia mikroorganisme sebagai “harta karun tersembunyi” yang potensinya sangat besar, terutama untuk pengembangan bioteknologi dan industri berbasis sains.
“Sekitar 95 persen mikroorganisme di dunia masih menjadi misteri. Ini peluang besar bagi riset dan penemuan baru,” ujar Antonius, Kamis (29/1/2026).
Mikroba, Kekayaan Hayati yang Terlupakan
Menurut Antonius, mikroorganisme merupakan bagian penting dari kekayaan hayati Indonesia yang selama ini kurang mendapat perhatian. Padahal, mikroba hidup hampir di semua habitat, mulai dari tanah pertanian, laut, pegunungan, hingga lingkungan ekstrem seperti mata air panas.
Ia menjelaskan, manusia baru mengenal mikroorganisme sekitar 300 tahun lalu, sejak Antonie van Leeuwenhoek menemukan mikroskop. Penemuan tersebut menjadi tonggak revolusi ilmu pengetahuan, yang kemudian melahirkan ilmu genetika hingga penemuan DNA.
“Dengan ditemukannya mikroorganisme, pemahaman manusia tentang kehidupan berubah total,” katanya.
Jejak Rempah Nusantara dalam Sejarah Ilmu Pengetahuan
Antonius juga mengaitkan perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa dengan kekayaan rempah Nusantara pada masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).
Menurutnya, kemakmuran yang diperoleh Belanda dari rempah-rempah Indonesia secara tidak langsung mendukung lahirnya berbagai penemuan penting, termasuk pengembangan mikroskop.
“Kesejahteraan dari rempah Nusantara memungkinkan Eropa berinvestasi pada riset dan inovasi,” ujarnya.
Dari Enzim PCR hingga Industri Ramah Lingkungan
Potensi mikroba Indonesia tidak hanya berhenti pada aspek akademik. Antonius mencontohkan mikroba ekstremofil yang hidup di lingkungan ekstrem, seperti mata air panas, sebagai sumber enzim tahan panas.
Enzim tersebut banyak dimanfaatkan dalam industri, termasuk polymerase chain reaction (PCR)—teknologi penting yang digunakan secara luas, termasuk saat pandemi Covid-19.
“Enzim PCR berasal dari bakteri yang hidup di mata air panas. Itu bukti nyata manfaat mikroba,” jelasnya.
Selain itu, mikroorganisme juga berperan penting dalam kesehatan manusia, hewan, dan tanaman melalui ekosistem mikrobioma, serta berpotensi menjadi solusi atas persoalan lingkungan, seperti bakteri pengurai plastik.
Riset Mikroba Masih Terjebak di Laboratorium
Meski riset mikroba di Indonesia mulai berkembang, Antonius menilai pemanfaatannya masih didominasi skala laboratorium dan belum banyak menyentuh tingkat industri.
“Sayang sekali kalau potensinya besar tapi berhenti di laboratorium. Ini perlu strategi riset yang kuat dan berkelanjutan,” katanya.
Ia menegaskan, pemanfaatan mikroba dapat dilakukan tanpa merusak lingkungan karena cukup dengan mengisolasi DNA atau mengembangbiakkannya dalam jumlah kecil.
Ajakan untuk Peneliti Muda
Antonius mendorong mahasiswa dan peneliti muda untuk lebih berani menjelajahi dunia mikroorganisme yang masih penuh teka-teki.
“Masih sangat banyak yang belum kita pahami. Di sanalah peluang penemuan besar berada,” tuturnya.
