Patrazone.com — Laut dalam Argentina menyimpan kejutan besar. Tim ahli biologi kelautan dari Schmidt Ocean Institute menemukan sedikitnya 28 spesies laut baru dalam sebuah ekspedisi riset awal 2026. Namun, di balik kekayaan hayati tersebut, para peneliti juga menemukan sesuatu yang mengkhawatirkan: sampah plastik buatan manusia yang telah mencapai kedalaman ekstrem.
Penelitian dilakukan menggunakan kapal riset Falkor (also), yang selama ini dikenal kerap mengungkap spesies laut dalam langka dan tak biasa. Kali ini, temuan mereka menunjukkan dua wajah samudra: keajaiban alam dan jejak krisis lingkungan.
Satu Rembesan, Kehidupan Melimpah
Awalnya, tim ilmuwan meneliti rembesan dingin—area dasar laut tempat gas metana dan zat kimia keluar dari sedimen. Rembesan ini menjadi sumber energi mikroba yang membentuk rantai makanan unik di laut dalam.
Hasilnya mengejutkan. Meski hanya menemukan satu rembesan dingin aktif, wilayah tersebut justru dipenuhi kehidupan dengan keanekaragaman spesies yang sangat tinggi.
“Jumlah dan variasi makhluk hidupnya jauh melampaui perkiraan kami,” ungkap tim peneliti.
28 Spesies Baru dan Terumbu Raksasa
Para ilmuwan memperkirakan telah menemukan 28 spesies baru, mulai dari siput laut, landak laut, anemon, hingga cacing laut. Sebagian besar hidup di terumbu karang Bathelia candida terbesar yang pernah tercatat, dengan ukuran hampir menyamai Kota Vatikan.
Temuan ini memperkuat anggapan bahwa laut dalam Argentina merupakan salah satu wilayah biodiversitas laut yang masih belum banyak terjamah manusia.
Ubur-ubur Hantu hingga Bangkai Paus
Di antara penemuan paling langka adalah ubur-ubur hantu (Stygiomedusa gigantea), makhluk misterius yang bisa tumbuh sepanjang bus sekolah. Di kegelapan laut dalam, kehadirannya tampak jauh dari kesan imut—lebih menyerupai makhluk dari dunia lain.
Tim juga menemukan bangkai paus di kedalaman sekitar 2,4 mil di bawah permukaan laut, yang kini menjadi ekosistem sementara bagi hiu, kepiting, dan berbagai organisme laut lainnya.
Laut Lebih Luas dari Daratan
Direktur Eksekutif Schmidt Ocean Institute, Jyotika Virmani, menegaskan bahwa lautan masih menyimpan misteri besar bagi manusia.
“Lautan mungkin memiliki kehidupan yang sama banyaknya, atau bahkan lebih, dibandingkan daratan. Apalagi lautan mencakup sekitar 98 persen ruang hidup di planet ini,” ujarnya, dikutip dari Popular Science (7/2/2026).
Sampah Manusia di Kedalaman Ekstrem
Di tengah penemuan ilmiah tersebut, para peneliti juga menemukan kantong plastik, jaring ikan, hingga kaset VHS lama yang masih relatif utuh. Plastik yang sulit terurai membuat sampah manusia mampu bertahan dan menyebar hingga ke wilayah laut terdalam dan terjauh.
Temuan ini menjadi pengingat keras bahwa jejak aktivitas manusia telah menjangkau hampir seluruh penjuru Bumi, termasuk ekosistem yang selama ini dianggap terpencil.
Jejak Rekam Penemuan Laut Dalam
Dalam beberapa tahun terakhir, ekspedisi Falkor (also) telah mencatat berbagai temuan penting, mulai dari cumi-cumi Antartika langka, gurita di perairan Kosta Rika, hingga lebih dari 100 spesies baru potensial di lepas pantai Chili.
Ekspedisi terbaru di Argentina kembali menegaskan satu hal: laut masih penuh keajaiban—dan sekaligus ancaman.
