Gen Z Disebut Generasi Paling Kesepian, Studi Ungkap Dampaknya pada Mental dan Kesehatan Fisik

Penelitian di AS dan Eropa menunjukkan semakin banyak anak muda menunda hubungan romantis, memicu lonjakan kesepian dan risiko gangguan kesehatan.
Patrazone.com — Rasa kesepian di kalangan anak muda kian menjadi sorotan. Sejumlah studi terbaru menempatkan Generasi Z sebagai generasi paling kesepian saat ini—bahkan melampaui generasi milenial.
Generasi Z, yakni mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012, tercatat semakin jarang menjalin hubungan romantis sejak usia remaja. Survei nasional terhadap sekitar 20.000 responden menunjukkan tren tersebut kian menguat dalam beberapa tahun terakhir.
Data dari Survey Center on American Life pada 2023 mencatat, jumlah Gen Z yang pernah menjalin hubungan saat remaja lebih rendah 20 persen dibanding Generasi X dan 22 persen dibanding Baby Boomers.
Lebih Banyak yang Tak Pernah Pacaran
Temuan lain dari American Institute for Boys and Men pada 2025 menunjukkan lebih dari 40 persen pria Gen Z mengaku tidak memiliki pengalaman hubungan romantis sama sekali saat remaja.
Analisis terhadap lebih dari 17.000 remaja dan dewasa muda di Jerman serta Inggris memperkuat gambaran tersebut. Individu yang melajang dalam jangka panjang cenderung mengalami peningkatan rasa kesepian dan penurunan kepuasan hidup.
Peneliti dari University of Zurich, Michael Krämer, menyebut dampak terhadap kesejahteraan semakin terasa ketika memasuki akhir usia 20-an—fase ketika gejala depresi mulai meningkat.
“Secara umum, tetap melajang dalam waktu lama di usia dewasa muda berkaitan dengan risiko sedang terhadap kesejahteraan,” ujarnya seperti dikutip dari Independent.
Siapa yang Paling Berisiko?
Penelitian tersebut juga mengidentifikasi kelompok yang lebih berisiko tetap melajang lebih lama, yakni laki-laki, individu dengan pendidikan tinggi, mereka yang memiliki kesejahteraan psikologis rendah, serta orang yang tinggal sendiri atau masih tinggal bersama orang tua.
Fokus pada pendidikan dan karier disebut menjadi salah satu faktor penundaan hubungan serius. Namun, semakin lama seseorang menunda hubungan pertama, semakin besar kemungkinan ia tetap melajang lebih lama.
Sebaliknya, pengalaman hubungan pertama terbukti memberi dampak positif. Responden yang pernah menjalin hubungan melaporkan kepuasan hidup lebih tinggi dan rasa kesepian lebih rendah, baik dalam jangka pendek maupun panjang.
Dampak ke Kesehatan Fisik
Kesepian bukan sekadar persoalan emosional. Laporan dari Cleveland Clinic menyebut kesepian dapat meningkatkan hormon stres kortisol yang berdampak pada gangguan pembuluh darah, sistem imun, hingga kesehatan jantung.
Psikolog Cleveland Clinic, Adam Borland, menegaskan bahwa kesepian memberi tekanan besar pada tubuh.
“Kami tahu dampak stres terhadap tubuh, dan kesepian itu sangat menekan. Saat seseorang merasa kesepian, mereka cenderung kurang merawat diri, dan itu bisa berujung pada masalah kesehatan,” ujarnya.
Berbagai riset bahkan mengaitkan kesepian dengan peningkatan risiko penyakit serius hingga kematian dini.
Tantangan Sosial Generasi Muda
Fenomena ini menempatkan kesehatan mental dan kualitas relasi sosial sebagai isu penting bagi generasi muda. Di tengah perubahan pola komunikasi digital, tekanan akademik, dan tuntutan karier, kemampuan membangun hubungan sosial yang sehat menjadi kunci menjaga kualitas hidup.
Kesepian bukan sekadar rasa hampa sesaat. Bagi Generasi Z, ia berpotensi menjadi persoalan jangka panjang yang memengaruhi mental, fisik, hingga masa depan mereka.



