Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Purbaya: Ekonomi Indonesia Masih Ekspansi, Bukan Krisis

Patrazone.com — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi ekonomi Indonesia masih kuat meskipun nilai tukar rupiah sempat menembus Rp17.000 per dolar Amerika Serikat. Ia menilai sentimen negatif yang muncul di pasar keuangan sebagian dipicu oleh pernyataan sejumlah ekonom yang menyebut Indonesia menuju krisis.
Purbaya mengatakan gejolak di pasar keuangan belakangan ini dipengaruhi oleh persepsi yang berkembang di publik, termasuk kekhawatiran bahwa kondisi ekonomi saat ini menyerupai krisis moneter 1998.
Menurut dia, pandangan tersebut tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya.
“Rupiah 17.000, IHSG anjlok, karena sebagian teman-teman ekonom bilang kita sudah resesi, seperti 1998 lagi. Tidak seperti itu. Ekonomi kita sedang ekspansi,” kata Purbaya di Jakarta, Senin (9/3/2026).
Ia menegaskan pemerintah terus menjaga daya beli masyarakat serta stabilitas ekonomi agar tetap berada pada jalur pertumbuhan.
Rupiah Sempat Tembus Rp17.000
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada pembukaan perdagangan Senin (9/3/2026) sempat melemah 76 poin atau 0,45 persen ke posisi Rp17.001 per dolar AS.
Namun pada akhir perdagangan, rupiah berhasil memperkecil pelemahan dan ditutup di level Rp16.949 per dolar AS.
Pelemahan tersebut menjadi salah satu titik terendah nilai tukar rupiah dalam sejarah modern.
Level ini bahkan melampaui posisi terburuk saat puncak kepanikan pandemi COVID-19 pada Maret 2020 yang berada di kisaran Rp16.600–Rp16.700 per dolar AS.
Nilai itu juga melampaui rekor intraday pada masa Krisis Moneter Asia 1998 yang sempat menyentuh sekitar Rp16.800 per dolar AS.
Ekonomi Disebut Masih Tumbuh
Meski demikian, Purbaya menegaskan indikator makroekonomi Indonesia masih menunjukkan tren positif.
Ia merujuk pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 yang mencapai 5,39 persen, salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
“Jangankan krisis, resesi saja belum. Melambat pun belum. Kita masih ekspansi dan masih akselerasi,” ujarnya.
Pemerintah Minta Investor Tetap Tenang
Purbaya juga meminta para investor dan pelaku pasar tetap tenang serta rasional dalam merespons dinamika global yang memengaruhi pasar keuangan domestik.
Menurut dia, pemerintah memiliki pengalaman dan instrumen kebijakan yang lebih kuat dibandingkan masa lalu untuk menjaga stabilitas ekonomi.
“Kita sudah tahu penyebab krisis 1998. Pelajaran itu kita pakai pada 2008-2009 dan juga saat pandemi 2020. Kita bisa menjaga ekonomi tetap tumbuh,” kata Purbaya.
Ia menegaskan pemerintah akan terus memperkuat kebijakan fiskal dan koordinasi dengan otoritas ekonomi lainnya guna menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.



