Lebaran Jauh dari Rumah, Ubed Pilih Bertanding di Eropa: “Yang Dirindukan Itu Makan Bareng Keluarga”

Patrazone.com — Di saat banyak orang bersiap pulang kampung, memesan tiket, dan menghitung hari menuju Lebaran, suasana berbeda justru dirasakan Mohammad Zaki Ubaidillah.
Tak ada aroma opor di rumah, tak ada suara takbir dari kampung halaman. Tahun ini, atlet muda yang akrab disapa Ubed itu harus merayakan Idulfitri jauh dari keluarga—di Orleans, Prancis.
Bukan tanpa alasan. Di sana, ia tengah berjuang di turnamen bulu tangkis level dunia.
Lebaran di Tengah Lapangan Pertandingan
Sejak 7 Maret 2026, Ubed sudah bertolak ke Eropa untuk menjalani dua turnamen penting dalam kalender Badminton World Federation.
Ia lebih dulu tampil di Swiss Open 2026 yang berakhir 15 Maret, sebelum melanjutkan perjuangan di Orleans Masters 2026 yang berlangsung hingga 22 Maret.
Momentum itu bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri.
“Lebaran di Orleans. Ini pertama kali pas lagi turnamen,” ujarnya.
Bagi sebagian orang, mungkin ini terdengar berat. Namun bagi seorang atlet, ini adalah bagian dari perjalanan.
Antara Mimpi dan Rindu
Ubed mengaku bukan kali pertama tidak merayakan Lebaran di rumah. Namun situasi kali ini terasa berbeda.
Jika sebelumnya karena pandemi Covid-19, kini ia benar-benar berada ribuan kilometer dari keluarga.
Meski begitu, ia memilih untuk tetap fokus.
“Saya bilang ke keluarga, ini karena ada pertandingan dan mau kejar ranking,” katanya.
Keputusan itu tidak mudah. Ada rindu yang harus ditahan—terutama momen sederhana yang sering dianggap biasa.
“Kangen kumpul sama keluarga, makan bareng di rumah,” ucapnya.
Kalimat itu singkat, tetapi cukup untuk menggambarkan apa yang sebenarnya paling ia rindukan.
Dukungan dari Rumah yang Tak Pernah Jauh
Beruntung, Ubed memiliki keluarga yang memahami pilihannya.
Tak ada tuntutan untuk pulang. Tak ada keluhan.
Sebaliknya, ada dukungan—meski hanya lewat layar.
Video call menjadi jembatan sederhana yang menghubungkan dua dunia: lapangan pertandingan di Eropa dan rumah di Indonesia.
“Enggak apa-apa, nanti bisa video call,” kata Ubed menirukan respons keluarganya.
Di situlah, makna Lebaran terasa berbeda. Bukan lagi soal tempat, tetapi tentang kebersamaan—meski secara virtual.
Tetap Berbagi, Meski Jauh
Menariknya, di tengah kesibukan dan jarak, tradisi Lebaran tetap ia jaga.
Saat ditanya soal THR, Ubed justru tertawa.
“Enggak ada, malah saya yang kasih,” ujarnya.
Ia mengaku tetap menyisihkan rezeki untuk dibagikan kepada saudara dan anak-anak kecil di keluarga.
Sebuah kebiasaan yang mungkin sederhana, tetapi sarat makna.
Lebaran yang Berbeda, Tapi Bermakna
Di balik gemerlap turnamen internasional, ada cerita personal yang sering luput dari perhatian.
Tentang pengorbanan. Tentang rindu. Tentang pilihan-pilihan yang harus diambil demi masa depan.
Bagi Ubed, Lebaran tahun ini memang tidak di rumah. Tidak ada pelukan langsung, tidak ada makan bersama di meja keluarga.
Namun ada hal lain yang ia perjuangkan: mimpi.
Dan mungkin, di antara suara raket yang beradu dan langkah di lapangan, terselip satu harapan sederhana—
agar suatu hari nanti, semua pengorbanan ini terbayar dengan kebanggaan yang bisa ia bawa pulang.


