Patrazone.com — Lebaran selama ini kerap digambarkan sebagai momen paling hangat dalam setahun. Suasana berkumpul, saling memaafkan, hingga hidangan khas yang tersaji di meja makan menjadi simbol kebahagiaan yang dinanti banyak orang.
Namun, di balik senyum yang terlukis saat bersilaturahmi, ada cerita lain yang jarang terungkap. Tidak semua orang menjalani Lebaran dengan perasaan ringan. Bagi sebagian orang, momen yang seharusnya penuh kebahagiaan justru menjadi pemicu tekanan mental.
Pertanyaan-pertanyaan yang terdengar “biasa” di telinga sebagian orang—seperti soal pekerjaan, pernikahan, hingga pencapaian hidup—bisa berubah menjadi beban tersendiri. Alih-alih merasa terhubung, sebagian individu justru merasa dihakimi, dibandingkan, bahkan terpojok di tengah keluarga sendiri.
Fenomena ini bukan hal baru dalam dunia kesehatan jiwa. Spesialis kedokteran jiwa, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menyebut bahwa kondisi semacam ini memang kerap dialami sebagian orang saat momen Lebaran tiba.
“Di balik sukacita Lebaran, ada juga fenomena di mana beberapa orang justru merasa khawatir, cemas, tertekan, bahkan ingin menghindar dari pertemuan keluarga,” ungkap dr. Lahargo.
Ketika Lebaran Tak Lagi Jadi Ruang Aman
Lebaran, yang seharusnya menjadi ruang untuk kembali terhubung, justru bisa menjadi ruang penuh tekanan bagi mereka yang belum merasa “sampai” dalam hidupnya. Perasaan tertinggal, tidak sesuai ekspektasi keluarga, hingga perbandingan sosial kerap muncul tanpa disadari.
Dalam kondisi seperti ini, seseorang bisa mengalami apa yang kerap disebut sebagai “Lebaran blues”—sebuah kondisi emosional yang ditandai dengan rasa cemas, tidak nyaman, hingga keinginan untuk menghindari interaksi sosial.
Namun, dr. Lahargo menekankan bahwa kondisi ini bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya, melainkan perlu dihadapi dengan kesadaran diri.
“Yang terpenting adalah bagaimana kita merespons, bukan bereaksi,” ujarnya.
Menjaga Diri di Tengah Hiruk Pikuk Silaturahmi
Agar Lebaran tetap menjadi momen yang hangat dan tidak menguras energi, ada beberapa pendekatan sederhana namun penting yang bisa dilakukan:
1. Mengenali Batas Diri
Kesadaran terhadap emosi menjadi langkah awal. Saat tubuh mulai lelah, hati terasa tidak nyaman, atau pikiran mulai tertekan, itu adalah sinyal untuk berhenti sejenak dan memberi ruang bagi diri sendiri.
2. Menjaga Batas Sehat
Tidak semua pertanyaan harus dijawab. Menolak dengan sopan pertanyaan yang terlalu personal bukan bentuk tidak hormat, melainkan upaya menjaga kesehatan mental.
3. Memilih Lingkar Aman
Berada di dekat orang-orang yang memberi rasa aman, diterima, dan tidak menghakimi bisa membantu menjaga kestabilan emosi.
4. Mengelola Respons, Bukan Reaksi
Kita tidak bisa mengontrol ucapan orang lain, tetapi kita bisa mengontrol cara merespons. Menjawab dengan tenang dapat mencegah konflik yang tidak perlu.
5. Tidak Membandingkan Diri
Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Membandingkan diri hanya akan memperbesar rasa tidak puas dan tekanan batin.
6. Kembali pada Makna Lebaran
Lebaran sejatinya adalah tentang saling memaafkan, bukan ajang pembuktian pencapaian hidup.
7. Bijak Menggunakan Media Sosial
Terlalu sering melihat pencapaian orang lain di media sosial dapat memicu rasa tidak cukup atau kurang. Mengurangi paparan bisa membantu menjaga kesehatan mental.
8. Berbelas Kasih pada Diri Sendiri
Tidak semua target hidup harus tercapai dalam waktu yang sama. Menerima kondisi diri adalah bagian penting dari proses bertumbuh.
Lebaran: Tentang Pulang, Bukan Sekadar Datang
Lebaran sering kali dimaknai sebagai “pulang”—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Namun, bagi sebagian orang, “pulang” tidak selalu terasa mudah.
Di tengah tuntutan sosial, ekspektasi keluarga, dan tekanan diri sendiri, penting untuk mengingat bahwa tidak semua orang berada di titik yang sama dalam hidup.
Dan itu tidak apa-apa.
Lebaran seharusnya menjadi ruang untuk kembali menjadi manusia—dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ruang untuk memaafkan, bukan menghakimi. Ruang untuk merangkul, bukan membandingkan.
Pada akhirnya, kebahagiaan Lebaran bukan tentang seberapa sempurna hidup seseorang terlihat, melainkan seberapa jujur seseorang berdamai dengan dirinya sendiri.
