Patrazone.com — Pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia soal kebiasaan sederhana di dapur mendadak ramai diperbincangkan. Ajakan untuk tidak boros saat memasak—yang sekilas terdengar sepele—justru membuka diskusi lebih luas, bukan hanya tentang energi, tetapi juga kesehatan.
“Kalau masak pakai LPG, kalau masakannya sudah matang, jangan kompornya boros,” ujar Bahlil, Jumat (27/3/2026).
Di balik imbauan itu, tersimpan pesan penting: kebiasaan kecil sehari-hari ternyata bisa berdampak besar—baik bagi pengeluaran rumah tangga, lingkungan, maupun kualitas makanan yang kita konsumsi.
Lebih dari Sekadar Hemat Energi
Sekretaris Jenderal Partai Golkar M Sarmuji kemudian meluruskan bahwa pernyataan tersebut bukan aturan teknis, melainkan ajakan untuk menggunakan energi secara bijak. Namun, dari sudut pandang ilmu gizi dan kesehatan, pesan itu justru memiliki dasar yang kuat.
Memasak terlalu lama—terutama hingga makanan menjadi kering atau gosong—bukan hanya soal rasa. Proses ini dapat mengubah kandungan gizi dan bahkan memunculkan senyawa berbahaya bagi tubuh.
Saat “Matang” Itu Sudah Cukup
Dalam dunia kuliner, istilah “matang” bukan sekadar soal tampilan. Untuk daging, kematangan ditentukan oleh suhu internal.
Menurut United States Department of Agriculture, daging ayam aman dikonsumsi pada suhu minimal 74°C. Sementara daging merah seperti sapi cukup pada suhu sekitar 63°C, dengan waktu istirahat beberapa menit setelah dimasak.
Panduan ini sejalan dengan rekomendasi World Health Organization, yang menekankan pentingnya memasak makanan hingga aman dari bakteri, namun tidak berlebihan.
Artinya, begitu makanan mencapai titik aman, proses memasak sebaiknya dihentikan. Lebih lama dari itu tidak memberikan manfaat tambahan—justru sebaliknya.
Ketika Memasak Terlalu Lama Jadi Masalah
Banyak orang mengira semakin lama dimasak, semakin aman. Padahal, penelitian menunjukkan hal berbeda.
Pemanasan berlebih dapat menyebabkan denaturasi protein, membuat daging kehilangan kelembapan dan menjadi keras. Lemak juga bisa mengalami oksidasi, menurunkan kualitas rasa sekaligus nilai gizinya.
Tak hanya itu, vitamin yang sensitif terhadap panas—seperti vitamin B kompleks—dapat berkurang drastis. Hasilnya, makanan yang seharusnya bergizi justru kehilangan manfaatnya.
Dalam praktik sehari-hari, ini terlihat sederhana: daging jadi alot, sayur terlalu lembek, rasa berubah, dan nutrisi pun menurun.
Risiko di Balik Makanan Gosong
Masalah tidak berhenti di situ. Bagian makanan yang gosong ternyata menyimpan risiko kesehatan yang lebih serius.
Menurut National Cancer Institute, memasak daging pada suhu sangat tinggi dapat menghasilkan senyawa seperti heterocyclic amines (HCA) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH).
Kedua senyawa ini terbentuk saat protein dan lemak bereaksi dengan panas ekstrem. Sejumlah penelitian mengaitkan paparan tinggi terhadap senyawa tersebut dengan peningkatan risiko kanker, seperti kanker kolorektal, payudara, dan prostat.
Meski hubungan ini bersifat jangka panjang dan dipengaruhi pola makan, para ahli sepakat: bagian makanan yang sudah gosong sebaiknya tidak dikonsumsi.
Kebiasaan Kecil, Dampak Besar
Di dapur, keputusan sederhana seperti mematikan kompor tepat waktu ternyata punya efek berlapis.
- Menghemat energi dan biaya rumah tangga
- Menjaga kualitas rasa makanan
- Mempertahankan kandungan gizi
- Mengurangi risiko senyawa berbahaya
Dalam konteks ini, pesan yang disampaikan Bahlil menjadi relevan—bahkan melampaui isu energi.
Menjaga Keseimbangan
Memasak adalah soal keseimbangan: cukup matang untuk aman, tetapi tidak berlebihan hingga merusak kualitas.
Kebiasaan seperti menunggu masakan “benar-benar kering” atau membiarkannya terlalu lama di atas api mungkin terasa sepele. Namun, perlahan kebiasaan ini bisa berdampak pada kesehatan keluarga.
Pada akhirnya, dapur bukan hanya tempat memasak, tetapi juga ruang di mana keputusan kecil menentukan kualitas hidup. Dan seperti diingatkan Bahlil, semuanya bisa dimulai dari hal paling sederhana: mematikan kompor saat masakan sudah matang.
