Serunya Lomba Dayung Klidang Lor Saat Lebaran, Tradisi Sungai di Batang yang Kian Dilirik Nasional

Patrazone.com — Riuh tepuk tangan pecah di tepian sungai. Di bawah terik matahari siang, deru dayung memecah permukaan air, berpacu menuju garis akhir. Warga berjejer di pinggir sungai, sebagian bersorak, sebagian lagi merekam momen.
Beginilah suasana Lomba Dayung Tradisional di Desa Klidang Lor, yang kembali menjadi magnet warga saat momen Lebaran, Minggu (22/3/2026).
Bagi masyarakat setempat, ini bukan sekadar lomba. Ini adalah tradisi, hiburan, sekaligus kebanggaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Lebaran yang Lebih dari Sekadar Silaturahmi
Di banyak tempat, Lebaran identik dengan kumpul keluarga dan hidangan khas. Namun di Klidang Lor, ada satu tradisi yang selalu dinanti: lomba dayung di aliran eks Sungai Sambong.
Sejak pagi, warga sudah memadati lokasi. Anak-anak duduk di bahu orang tuanya, pedagang kaki lima berjejer, dan para peserta bersiap di garis start dengan penuh semangat.
Bagi para perantau yang pulang kampung, momen ini menjadi nostalgia yang tak tergantikan.
Tradisi yang Hidup Tanpa Banyak Intervensi
Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, mengakui kekuatan utama event ini justru terletak pada partisipasi masyarakat.
“Tanpa intervensi besar dari pemerintah, kegiatan ini sudah mampu menarik perhatian luas,” ujarnya.
Tahun ini, pemerintah daerah turut memberikan dukungan berupa dua unit perahu baru yang langsung digunakan dalam perlombaan.
Bantuan tersebut menjadi simbol bahwa tradisi lokal tetap mendapat tempat di tengah pembangunan daerah.
Dari Tradisi Lokal Menuju Event Nasional
Melihat antusiasme yang terus meningkat, Pemerintah Kabupaten Batang mulai memandang lomba ini sebagai potensi wisata dan olahraga yang lebih besar.
Rencana pengembangan pun disiapkan.
Mulai dari pembenahan fasilitas penonton, sistem pendaftaran berbasis online, hingga peningkatan hadiah untuk menarik peserta dari luar daerah.
Tak hanya itu, kolaborasi dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) juga mulai dijajaki agar kompetisi ini bisa naik kelas ke tingkat nasional.
“Kami ingin ke depan ada atlet dari Batang yang berprestasi lewat ajang ini,” kata Faiz.
Sungai, Infrastruktur, dan Harapan Baru
Di balik kemeriahan lomba, ada pekerjaan rumah yang juga disiapkan.
Salah satunya adalah pengerukan Sungai Sambong agar tetap layak digunakan, terutama menjelang musim hujan.
Upaya ini penting agar tradisi tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dengan kualitas penyelenggaraan yang lebih baik.
Lebih dari Sekadar Perlombaan
Bagi warga Klidang Lor, lomba dayung bukan hanya soal siapa yang tercepat.
Ini adalah ruang kebersamaan. Tempat anak-anak belajar tentang tradisi. Tempat orang dewasa merayakan identitas kampung halaman.
Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi seperti ini menjadi pengingat bahwa budaya lokal masih punya ruang untuk tumbuh—bahkan bersinar lebih luas.
Jika rencana pengembangan berjalan mulus, bukan tidak mungkin suatu hari nanti, nama Klidang Lor akan dikenal lebih jauh—bukan hanya sebagai desa, tetapi sebagai tuan rumah salah satu festival dayung tradisional terbesar di Indonesia.



