10.000 Megono Gratis di Linggoasri, Cara Pekalongan Merawat Tradisi dan Merangkul Kebersamaan

Patrazone.com — Aroma daun pisang yang hangat berpadu dengan gurihnya parutan kelapa dan nangka muda memenuhi udara kawasan wisata Linggoasri, Kecamatan Kajen, Jumat (27/3/2026). Ribuan warga Kabupaten Pekalongan tumpah ruah dalam gelaran “Harmoni Syawalan Megono”, sebuah tradisi yang tak sekadar menghadirkan makanan, tetapi juga menyatukan rasa.
Sejak pagi, masyarakat dari berbagai penjuru sudah berdatangan. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula yang berkelompok dengan tetangga. Mereka rela mengantre demi mendapatkan nasi megono—kuliner khas Pekalongan—yang dibagikan gratis oleh pemerintah daerah.
Tahun ini, tak tanggung-tanggung, sekitar 10.000 paket nasi megono disiapkan. Senyum sumringah terlihat di wajah warga saat menerima bungkusan sederhana itu. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya seporsi makanan. Namun bagi warga Pekalongan, megono adalah simbol kebersamaan dan identitas yang melekat kuat.
Acara ini dibuka langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan, Sukirman. Di hadapan ribuan warga, ia menegaskan bahwa Syawalan bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan ruang untuk merawat persaudaraan di tengah keberagaman.
“Perbedaan waktu Idul Fitri tahun ini bukan hal yang perlu diperdebatkan. Justru ini menjadi pengingat bahwa kita hidup dalam keberagaman yang harus kita syukuri bersama,” ujarnya.
Pernyataan itu disambut tepuk tangan warga yang memenuhi lokasi acara. Di tengah suasana santai dan penuh kehangatan, pesan tentang toleransi dan kebersamaan terasa lebih mudah diterima.
Tak hanya pembagian megono, gelaran ini juga menghadirkan lomba kreasi megono yang diikuti perwakilan seluruh kecamatan. Beragam inovasi ditampilkan—mulai dari sajian tradisional yang mempertahankan cita rasa klasik, hingga kreasi modern yang dikemas lebih kekinian.
Beberapa stan bahkan menarik perhatian pengunjung karena tampilannya yang unik dan estetik, membuat banyak warga tak ragu mengabadikan momen melalui ponsel mereka. Syawalan pun terasa lebih hidup, menjadi perpaduan antara tradisi dan sentuhan kreativitas generasi masa kini.
Dalam kompetisi tersebut, Kecamatan Karangdadap berhasil meraih juara pertama berkat inovasi dan cita rasa yang dinilai paling unggul. Disusul Kecamatan Paninggaran di posisi kedua dan Kecamatan Karanganyar di peringkat ketiga. Sejumlah penghargaan lain juga diberikan untuk kategori inovasi terbaik dan favorit pengunjung.
Bagi Sukirman, megono bukan sekadar makanan khas. Ia adalah identitas budaya yang memiliki potensi besar untuk mengangkat nama daerah.
“Sego megono harus kita kenalkan lebih luas. Ini bukan hanya soal kuliner, tapi juga bagian dari daya tarik wisata yang bisa membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, kegiatan seperti ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan sektor pariwisata sekaligus menggerakkan ekonomi lokal, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah.
Di sela acara, Sukirman juga menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri kepada seluruh masyarakat Kabupaten Pekalongan. Ia tak lupa menyampaikan permohonan maaf sekaligus komitmen untuk terus memperbaiki pelayanan publik.
“Kami menyadari masih ada kekurangan. Ke depan, kami akan terus berupaya meningkatkan kinerja, baik di sektor infrastruktur, kesehatan, maupun pelayanan masyarakat,” ujarnya.
Menjelang siang, suasana di Linggoasri tetap ramai. Warga duduk bersama di bawah pepohonan, menikmati megono sambil bercengkerama. Anak-anak berlarian, sementara para orang tua larut dalam obrolan hangat yang jarang terjadi di tengah kesibukan sehari-hari.
Di momen seperti inilah, Syawalan menemukan maknanya yang paling sederhana namun mendalam: mempertemukan kembali orang-orang, menghapus sekat, dan merajut ulang kebersamaan.
Harmoni Syawalan Megono tahun ini pun menjadi bukti bahwa tradisi lokal, jika dirawat dengan baik, bukan hanya bertahan—tetapi juga mampu berkembang dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.



