Food & Travel

Kupat Jembut, Tradisi Syawalan Unik di Semarang: Dari Kisah Pengungsian hingga Rasa yang Bikin Rindu

Patrazone.com — Pagi itu, suasana Kecamatan Pedurungan terasa berbeda. Warga berbondong-bondong menuju halaman masjid, sebagian mengantre, sebagian lagi berbincang hangat. Di tangan mereka, sepotong tradisi siap dinikmati: kupat jembut.

Sekilas, tampilannya sederhana. Ketupat dibelah simetris di bagian tengah, lalu diisi tauge segar dan parutan kelapa berbumbu merah. Namun, begitu didekatkan ke hidung, aroma kencur langsung menyeruak tajam—mengalahkan wangi kelapa yang biasanya dominan.

Gigitan pertama langsung memberi kejutan. Pedasnya menyentuh lidah, disusul rasa gurih, manis, dan sedikit asin yang menyatu perlahan. Teksturnya pun tak kalah menarik: lembut dari ketupat berpadu dengan renyahnya tauge dan kelapa parut.

“Ini bukan sekadar makanan, tapi rasa kebersamaan,” ujar seorang warga sambil tersenyum.


Tradisi yang Lahir dari Kesederhanaan

Di balik cita rasanya, kupat jembut menyimpan sejarah panjang yang tak banyak diketahui.

Menurut penuturan Munawir, Imam Masjid Masjid Roudhotul Muttaqin, tradisi ini bermula pada era 1950-an. Saat itu, warga Pedurungan baru kembali dari pengungsian akibat dampak Perang Dunia II.

Kondisi ekonomi masih serba terbatas. Namun, semangat untuk menyambut Lebaran tetap hidup.

“Waktu itu serba sederhana. Ketupat dibelah, diisi tauge dan kelapa. Dari situlah kupat jembut lahir,” kata Munawir.

Nama “jembut” sendiri hingga kini masih menjadi misteri. Namun, warga meyakini nama unik itu justru membuat tradisi ini mudah diingat dan terus diwariskan.


Lebih dari Sekadar Kuliner

Yang membuat kupat jembut berbeda bukan hanya rasanya, tetapi juga maknanya.

Ketupat yang dibelah di tengah bukan tanpa arti. Ia menjadi simbol terbukanya hati—tanda bahwa masyarakat telah saling memaafkan setelah Ramadhan.

Tradisi ini biasanya digelar pada hari kedelapan bulan Syawal, atau yang dikenal sebagai Syawalan. Momen ini menjadi penanda berakhirnya rangkaian Lebaran.

“Ini simbol bahwa semua sudah selesai, semua sudah saling memaafkan,” ujar Munawir.


Antrean, Tawa, dan Keceriaan Anak-anak

Di tengah pembagian kupat jembut, suasana semakin hidup dengan kehadiran anak-anak yang berlarian kecil. Sebagian dari mereka mengantre, bukan hanya untuk mendapatkan ketupat, tetapi juga uang yang dibagikan warga.

Tradisi berbagi ini menambah kehangatan suasana. Tawa anak-anak, obrolan warga, dan aroma makanan menyatu menjadi potret khas Syawalan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Bagi warga Pedurungan, kupat jembut bukan sekadar menu sarapan. Ia adalah pengingat akan masa lalu, tentang perjuangan, kesederhanaan, dan pentingnya menjaga kebersamaan.


Rasa yang Tak Sekadar Mengenyangkan

Dengan ukuran sekitar empat ruas jari orang dewasa, dua hingga tiga kupat jembut sudah cukup mengganjal perut. Namun, yang membuat orang kembali bukanlah rasa kenyang—melainkan pengalaman yang menyertainya.

Karena di setiap gigitan, ada cerita. Di setiap aroma, ada kenangan.

author avatar
Patrazone

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button