WFH Sehari Sepekan Dinilai Tak Bisa Seragam, Kadin: Sektor Manufaktur Perlu Kajian Mendalam

Patrazone.com — Gagasan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) kembali mencuat di tengah upaya pemerintah menekan konsumsi energi dan meningkatkan efisiensi nasional. Namun di balik wacana tersebut, dunia usaha mengingatkan: tidak semua sektor siap menjalankannya.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Anindya Bakrie, menegaskan bahwa kebijakan WFH perlu dilihat dari karakter masing-masing industri.
“Beberapa sektor memang masuk akal, terutama di service industry. Tetapi di bidang manufaktur, itu harus dikaji lebih dalam,” ujarnya.
Dua Dunia Berbeda: Jasa vs Manufaktur
Dalam lanskap ekonomi modern, sektor jasa dan manufaktur berdiri di dua dunia yang berbeda.
Industri jasa—seperti keuangan, teknologi, hingga konsultasi—lebih fleksibel karena sebagian besar pekerjaannya dapat dilakukan secara digital. Laptop dan koneksi internet menjadi “kantor” yang cukup.
Sebaliknya, sektor manufaktur bergantung pada mesin, lini produksi, dan kehadiran fisik tenaga kerja. Di sinilah tantangan muncul.
WFH, yang tampak sederhana di atas kertas, berpotensi mengganggu ritme produksi jika diterapkan tanpa perhitungan matang.
Antara Efisiensi dan Produktivitas
Di tengah persaingan kawasan yang semakin ketat, terutama di Asia Tenggara, dunia usaha dituntut menjaga keseimbangan antara efisiensi dan produktivitas.
Menurut Anindya Bakrie, efisiensi memang penting, tetapi tidak boleh mengorbankan output.
“Fokusnya adalah bagaimana efisiensi bisa berjalan tanpa menghilangkan produktivitas. Biasanya itu bisa dibantu teknologi,” katanya.
Pemanfaatan teknologi dinilai menjadi jalan tengah—terutama bagi sektor yang tidak sepenuhnya bisa mengadopsi kerja jarak jauh.
Latar Belakang: Tekanan Energi dan Geopolitik
Wacana WFH satu hari per pekan bukan tanpa alasan. Pemerintah melihatnya sebagai salah satu cara mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM), terutama di tengah gejolak global akibat konflik Timur Tengah.
Purbaya Yudhi Sadewa bahkan menyebut potensi penghematan BBM bisa mencapai sekitar 20 persen dalam satu hari—meski angka tersebut masih bersifat estimasi kasar.
“Ini hitungan kasar, tapi menunjukkan ada potensi penghematan yang cukup signifikan,” ujarnya.
Kompromi: WFH Hanya Satu Hari
Meski demikian, pemerintah tidak mengambil langkah ekstrem. Skema yang dipilih adalah WFH satu hari dalam sepekan—sebuah kompromi antara efisiensi energi dan menjaga kinerja.
Menurut Purbaya Yudhi Sadewa, kebijakan ini juga mempertimbangkan fakta bahwa tidak semua pekerjaan bisa dilakukan secara optimal dari rumah.
Ia bahkan mengakui adanya kecenderungan penurunan produktivitas jika WFH dilakukan terlalu sering.
Dengan pola satu hari, pekerja tetap mendapatkan fleksibilitas, sementara perusahaan menjaga ritme kerja tetap stabil.
Dunia Usaha Minta Kajian Matang
Bagi dunia usaha, kunci dari kebijakan ini adalah fleksibilitas dan pendekatan sektoral.
Tidak ada satu kebijakan yang cocok untuk semua.
Sektor jasa mungkin bisa langsung beradaptasi. Namun sektor manufaktur membutuhkan waktu, penyesuaian, bahkan mungkin skema yang berbeda.
Antara Tren dan Realitas
WFH bukan lagi sekadar tren pascapandemi. Ia telah menjadi bagian dari cara kerja baru.
Namun, seperti diingatkan Anindya Bakrie, realitas di lapangan tidak selalu sejalan dengan idealisme kebijakan.
Di satu sisi, efisiensi energi menjadi kebutuhan mendesak.
Di sisi lain, produktivitas tetap menjadi tulang punggung ekonomi.
Di antara dua kepentingan itu, pemerintah dan dunia usaha kini berada dalam satu tantangan yang sama: mencari titik keseimbangan terbaik.
Dan jawabannya, tampaknya, bukan pada satu kebijakan seragam—melainkan pada pendekatan yang lebih cermat, adaptif, dan berbasis sektor.



