Patrazone.com – Di sebuah sudut Pasar Pucang Anom, Surabaya, Mimin (65) tampak sibuk melayani pembeli. Namun di balik aktivitasnya, ada kegelisahan yang sulit disembunyikan.
Harga plastik—barang yang selama ini dianggap sepele—tiba-tiba melonjak tajam.
“Dari Rp9.000 jadi Rp15.000, semua jenis naik hampir 40 persen,” ujarnya.
Kenaikan itu bukan tanpa sebab. Jauh di Timur Tengah, konflik yang melibatkan Iran dan aliansi Israel–United States telah memicu lonjakan harga minyak dunia dan mengganggu jalur distribusi global.
Dampaknya? Sampai ke kantong plastik di pasar.
Dari Minyak ke Plastik
Bagi banyak orang, minyak bumi identik dengan bahan bakar. Namun kenyataannya, minyak adalah bahan dasar bagi banyak produk, termasuk plastik.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim, menjelaskan bahwa gangguan pasokan minyak dunia berimbas pada turunan kimia seperti amonia—komponen penting dalam industri pupuk dan plastik.
“Produk seperti plastik dan pupuk sangat bergantung pada bahan turunan minyak. Kalau pasokan terganggu, efeknya pasti terasa,” ujarnya.
Apalagi, sekitar 70 persen distribusi minyak dunia bergantung pada jalur strategis seperti Selat Hormuz—yang kini ikut terdampak konflik.
Harga Bahan Baku Melonjak Tajam
Kenaikan harga minyak global, yang sempat menembus 100 dolar AS per barel, memicu lonjakan harga bahan baku plastik.
Salah satu komoditas utama, polypropylene, bahkan disebut mengalami kenaikan hingga 250 persen sejak awal tahun.
Kondisi ini membuat rantai pasok terguncang. Industri terpukul, pedagang terjepit, dan konsumen mulai merasakan dampaknya.
Pedagang Terhimpit Modal
Bagi Mimin, persoalan bukan hanya pada harga jual, tetapi juga modal.
Ia bercerita, banyak pelanggan sempat memborong stok sebelum harga naik. Namun dirinya terlambat menyadari lonjakan tersebut.
Akibatnya, saat harus membeli stok baru, harga sudah jauh lebih mahal.
“Kami tidak tahu kalau harga akan naik. Sekarang kalau kulakan, modalnya jadi besar,” katanya.
Situasi serupa dialami Maksum (48), pedagang plastik lainnya.
“Baru kali ini naiknya ugal-ugalan. Ada yang naik sampai Rp15.000,” ujarnya.
Namun, ia mengaku tak berani menaikkan harga terlalu tinggi.
“Kalau dinaikkan, pembeli malah tidak datang,” tambahnya.
Dampak ke Harga Kebutuhan Pokok
Yang paling dikhawatirkan bukan hanya pedagang, tetapi efek domino ke masyarakat luas.
Plastik adalah bagian dari hampir semua rantai distribusi—dari kemasan makanan hingga kebutuhan sehari-hari.
Mimin pun mengungkapkan kekhawatirannya.
“Kalau plastik naik, harga tempe, tahu, semua bisa ikut naik. Rakyat jadi makin tertekan,” katanya.
Bank Indonesia Waspada
Melihat situasi ini, Bank Indonesia mulai mengambil langkah antisipatif.
Ibrahim menyebut pihaknya akan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menjaga ketersediaan bahan baku plastik, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah.
“Kami ingin memastikan stok tetap ada dan harganya tidak terlalu membebani,” ujarnya.
Menunggu Akhir Konflik
Namun satu hal yang sulit dipastikan adalah durasi konflik.
Selama ketegangan di Timur Tengah belum mereda, tekanan terhadap pasokan global akan terus terjadi.
Dan selama itu pula, dampaknya akan terus terasa—bahkan hingga ke pasar-pasar tradisional di Indonesia.
