Konsultasi

Mengapa Flu dan Batuk Mudah Menyerang saat Musim Hujan? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Patrazone.com – Musim hujan kerap identik dengan meningkatnya keluhan flu, batuk, dan tubuh yang terasa mudah lelah. Meski sering dianggap sebagai siklus tahunan yang wajar, kondisi ini sejatinya menandakan sistem imun sedang bekerja lebih keras menghadapi perubahan lingkungan.

Kementerian Kesehatan RI mencatat, melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), kasus penyakit pernapasan seperti influenza dan ISPA cenderung meningkat saat peralihan ke musim hujan. Perubahan suhu dan kelembapan membuat virus pernapasan lebih mudah bertahan dan menyebar, terutama di ruang tertutup dan area padat aktivitas.

Udara Dingin dan Lembap Melemahkan Pertahanan Tubuh

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) menunjukkan, suhu dingin dapat menurunkan efektivitas pertahanan alami di hidung dan saluran pernapasan atas. Padahal, area ini merupakan garis pertahanan pertama tubuh terhadap virus.

Ketika suhu menurun, virus flu dan batuk memiliki peluang lebih besar untuk berkembang sebelum sistem imun merespons secara optimal. Kondisi ini diperparah oleh kelembapan tinggi yang memungkinkan virus bertahan lebih lama di udara maupun permukaan benda.

Selain itu, aktivitas masyarakat yang lebih banyak dilakukan di dalam ruangan saat hujan turut meningkatkan risiko penularan antarindividu.

Kurangnya Sinar Matahari dan Peran Vitamin D

Faktor lain yang tak kalah penting adalah berkurangnya paparan sinar matahari. Kondisi ini sering dikaitkan dengan menurunnya kadar vitamin D dalam tubuh, yang berperan penting dalam mendukung daya tahan terhadap infeksi saluran pernapasan.

Meta-analisis dalam jurnal The BMJ menunjukkan bahwa kecukupan vitamin D dapat membantu menurunkan risiko infeksi pernapasan, terutama pada kelompok dengan kadar vitamin D rendah.

Pola Makan Berperan Menjaga Stamina

Untuk menjaga daya tahan tubuh tetap optimal selama musim hujan, asupan gizi menjadi kunci. Protein berperan penting dalam pembentukan antibodi dan perbaikan sel. Sumber protein seperti telur, ikan, ayam, tempe, dan tahu dianjurkan untuk dikonsumsi secara rutin.

Vitamin dan mineral juga tak kalah penting. Vitamin C membantu fungsi sel imun, sementara zinc berperan dalam daya tahan dan pemulihan tubuh. Zat besi membantu menjaga energi agar tubuh tidak mudah lelah saat melawan infeksi. Peran nutrisi ini banyak dibahas dalam jurnal Nutrients dan The American Journal of Clinical Nutrition.

Mengonsumsi makanan hangat seperti sup dan kuah juga membantu menjaga suhu tubuh tetap stabil, sehingga metabolisme dan penyerapan nutrisi berjalan lebih optimal.

Tetap Cukupi Cairan Meski Cuaca Dingin

Meski rasa haus berkurang saat hujan, kebutuhan cairan tubuh tetap sama. WHO dan Institute of Medicine menyebutkan kebutuhan cairan harian orang dewasa sekitar 2 liter untuk perempuan dan 2,5 liter untuk laki-laki, termasuk dari makanan.

Kurangnya asupan cairan dapat membuat tubuh lebih cepat lelah dan memperlambat proses pemulihan saat flu atau batuk ringan.

Herbal sebagai Pendukung Pemulihan

Selain pola makan dan istirahat cukup, sebagian orang memanfaatkan herbal sebagai pendukung pemulihan. Daniel Damaz Hadiwijaya, pendiri House of Herbs, membagikan racikan herbal sederhana berbahan jahe, sereh, gula merah, cengkeh, dan pandan yang diseduh air panas selama 10–15 menit.

Menurut Daniel, herbal tidak dimaksudkan untuk menggantikan pengobatan medis, melainkan sebagai pelengkap untuk meredakan gejala dan memberi rasa nyaman selama masa pemulihan.

Kunci Hadapi Musim Hujan

Kombinasi udara dingin, kelembapan tinggi, dan daya tahan tubuh yang menurun menjadi alasan flu dan batuk mudah menyerang saat musim hujan. Menjaga pola makan seimbang, hidrasi cukup, tidur berkualitas, serta kebiasaan hidup bersih menjadi langkah utama agar tubuh tetap bugar menghadapi cuaca ekstrem.

author avatar
Patrazone

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button