Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Puasa Ramadan? Ini Penjelasan Medis dari Fase Awal hingga Akhir

Dari penurunan gula darah hingga perbaikan sel, puasa 30 hari memicu proses biologis yang berdampak pada pencernaan, metabolisme, dan kesehatan jantung.
Patrazone.com — Puasa Ramadan bukan hanya ibadah spiritual. Secara medis, puasa juga memicu serangkaian perubahan biologis di dalam tubuh.
Selama sekitar 13–14 jam tanpa asupan makanan dan minuman, tubuh beralih dari mode “menyerap energi” ke mode “menghemat dan memperbaiki”. Para ahli menyebut proses ini sebagai fase adaptasi metabolik yang membawa sejumlah manfaat kesehatan jika dijalani dengan benar.
Lalu, apa saja yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh saat berpuasa?
Tahap Awal: Adaptasi dan Gejala Fisik
Mengacu pada penjelasan medis dari Johns Hopkins Aramco Healthcare, beberapa hari pertama puasa menjadi fase paling menantang.
Pada tahap ini:
- Kadar gula darah mulai menurun
- Tekanan darah ikut turun
- Tubuh mulai menggunakan cadangan energi
Gejala seperti sakit kepala, pusing, mual, dan rasa lapar berlebih kerap muncul. Hal ini terjadi karena tubuh sedang menyesuaikan diri dari pola makan normal ke pola puasa.
Secara biologis, tubuh mulai beralih menggunakan glikogen (cadangan gula) sebagai sumber energi, sebelum akhirnya memanfaatkan lemak.
Tahap Kedua: Sistem Pencernaan “Beristirahat”
Memasuki hari-hari berikutnya, tubuh mulai terbiasa. Sistem pencernaan yang biasanya bekerja hampir sepanjang hari kini mendapat waktu istirahat.
Energi yang sebelumnya digunakan untuk mencerna makanan dialihkan untuk:
- Proses perbaikan sel
- Pembersihan sisa metabolisme
- Aktivasi sistem imun
Sel darah putih dilaporkan menjadi lebih aktif. Organ seperti hati, ginjal, paru-paru, dan kulit juga bekerja mengoptimalkan proses detoksifikasi alami tubuh.
Dalam fase ini, tubuh memperbaiki sel-sel yang rusak dan meningkatkan efisiensi metabolisme.
Tahap Akhir: Energi dan Fokus Meningkat
Pada sekitar 10 hari terakhir Ramadan, tubuh umumnya sudah sepenuhnya beradaptasi.
Banyak orang melaporkan:
- Energi lebih stabil
- Konsentrasi meningkat
- Daya ingat lebih baik
Organ-organ menyelesaikan proses perbaikan, dan metabolisme bekerja lebih efisien. Setelah racun metabolik dikeluarkan, tubuh dapat berfungsi lebih optimal.
Dampak pada Gula Darah dan Berat Badan
Ahli endokrinologi menyebut puasa dapat membantu mengatur kadar gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin.
Menurut Ahmed BaSaeed, konsultan endokrinologi dan penyakit metabolik di The First Clinic, Jeddah, puasa dapat membantu pasien diabetes tipe 2 jika dilakukan dengan pengawasan medis.
“Puasa membantu mendorong gaya hidup lebih sehat dengan mengurangi kalori, gula, minuman bersoda, dan pati, sehingga mendorong penurunan berat badan,” ujarnya.
Namun, manfaat ini tetap bergantung pada pola makan saat sahur dan berbuka. Konsumsi berlebihan justru bisa menghilangkan efek positif puasa.
Puasa sebagai Reset Metabolisme
Secara ilmiah, puasa Ramadan dapat menjadi semacam “reset” metabolisme tahunan. Tubuh belajar mengatur ulang penggunaan energi, memperbaiki sel, dan meningkatkan efisiensi kerja organ.
Meski demikian, individu dengan kondisi medis tertentu seperti diabetes, gangguan lambung, atau penyakit jantung tetap dianjurkan berkonsultasi dengan dokter sebelum berpuasa.
Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum memperbaiki gaya hidup—baik secara spiritual maupun biologis.



