Internet

Internet Rumah Rp100.000 Makin Sengit, HiFi Air Indosat Tantang Internet Rakyat dan Orbit Telkomsel

Patrazone.com — Persaingan layanan internet rumah berbasis fixed wireless access (FWA) di Indonesia semakin panas. Kehadiran paket internet Rp100.000 dari layanan HiFi Air milik Indosat Ooredoo Hutchison memicu babak baru kompetisi dengan layanan Internet Rakyat dari PT Solusi Sinergi Digital Tbk serta Orbit milik Telkomsel.

Kompetisi Internet Rumah Makin Ketat

Persaingan layanan internet cepat nirkabel untuk rumah tangga kelas menengah dan bawah semakin dinamis. Paket internet murah dengan harga sekitar Rp100.000 kini menjadi magnet utama bagi konsumen.

Baru-baru ini, Indosat Ooredoo Hutchison meluncurkan layanan HiFi Air yang menawarkan paket 125 GB seharga Rp100.000 per bulan. Harga tersebut langsung menempatkan layanan ini dalam kompetisi ketat dengan Internet Rakyat dari PT Solusi Sinergi Digital Tbk yang menawarkan paket unlimited dengan klaim kecepatan hingga 100 Mbps.

Di sisi lain, Telkomsel melalui layanan Orbit memposisikan diri pada segmen yang sedikit lebih premium. Untuk kuota yang sama, yakni 125 GB, paket Orbit dipasarkan dengan harga sekitar Rp179.000 per bulan.


Bukan Sekadar Perang Harga

Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi, menilai kehadiran paket HiFi Air dengan harga Rp100.000 berpotensi mengubah ekspektasi harga pasar internet rumah nirkabel.

Menurut dia, kompetisi yang terjadi tidak semata-mata soal harga paling murah, melainkan bagaimana operator memposisikan layanan mereka dari sisi harga, kualitas jaringan, dan pengalaman pengguna.

“Jika dibandingkan dengan Internet Rakyat yang menawarkan unlimited di harga sama, serta Telkomsel melalui Orbit yang lebih premium, pasar akan makin sensitif terhadap value for money,” ujar Heru, Senin (9/3/2026).

Ia menilai para operator kini berada dalam persaingan positioning. Sebagian menawarkan kuota besar dengan harga murah, sementara operator lain menekankan stabilitas jaringan dan kualitas layanan.


Tantangan Bisnis Internet Rp100.000

Meski menarik bagi konsumen, model tarif murah seperti Rp100.000 per bulan dinilai memiliki tantangan tersendiri bagi operator.

Heru menjelaskan, layanan FWA berbasis 4G dan 5G menggunakan spektrum yang sama dengan jaringan seluler. Artinya, lonjakan trafik dari pengguna internet rumah dapat meningkatkan biaya operasional per gigabyte bagi operator.

Selain itu, paket kuota besar atau bahkan unlimited berpotensi menimbulkan kongesti jaringan, terutama di wilayah dengan trafik tinggi.

Karena itu, operator kemungkinan akan menerapkan fair usage policy (FUP) atau manajemen kecepatan untuk menjaga kualitas layanan.

“Model Rp100.000 per bulan masih bisa berkelanjutan, asalkan operator mampu mengelola kapasitas jaringan dengan disiplin dan konsumen tetap mendapatkan kualitas layanan yang baik,” kata Heru.


Peluang Pasar Masih Besar

Di tengah persaingan ketat, potensi pasar internet rumah nirkabel di Indonesia dinilai masih sangat besar.

Penetrasi jaringan fiber optik belum merata, terutama di luar kota besar. Sementara kebutuhan konektivitas rumah tangga terus meningkat, mulai dari kerja jarak jauh, pembelajaran daring, hingga aktivitas UMKM.

Dalam kondisi tersebut, teknologi fixed wireless access (FWA) menjadi solusi cepat karena tidak membutuhkan pembangunan kabel fiber yang mahal dan memakan waktu lama.

Meski demikian, dalam jangka panjang, Heru menilai jaringan fiber tetap menjadi infrastruktur utama untuk menopang pertumbuhan trafik data yang terus meningkat.

“FWA bisa menjadi solusi transisi bagi wilayah yang belum terjangkau fiber, tetapi penguatan jaringan kabel tetap penting untuk masa depan,” ujarnya.

author avatar
Patrazone

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button