Nasional

Tumpeng Getuk Setinggi 1 Meter, Cara Warga Batang Rayakan Syawalan Sekaligus Bangun Wisata Desa

Patrazone.com — Pagi itu, suasana di Desa Cepokokuning terasa berbeda. Ratusan warga berkumpul, bukan sekadar untuk merayakan Syawalan, tetapi juga mengarak sebuah simbol kebersamaan: tumpeng getuk setinggi satu meter.

Dibalut warna putih khas singkong yang diolah, tumpeng itu tampak mencolok di antara kerumunan. Diiringi empat tampah getuk lainnya, arak-arakan bergerak perlahan menuju Kali Lojahan—sebuah aliran sungai yang kini mulai dilirik sebagai destinasi wisata baru desa.

Tradisi ini bukan sekadar perayaan. Di baliknya, tersimpan cerita tentang kreativitas, gotong royong, dan harapan baru bagi ekonomi warga.

Dari Singkong Jadi Simbol Syukur

Kepala Desa Cepokokuning, Maryadi, menjelaskan bahwa tradisi “Tumpeng Getuk” telah digelar untuk keempat kalinya. Awalnya sederhana: memanfaatkan hasil kebun warga yang melimpah, yakni singkong.

Namun, dari bahan sederhana itu, lahirlah identitas baru desa.

“Karena banyak tanaman singkong, kami kembangkan jadi tradisi Syawalan sekaligus potensi wisata,” ujar Maryadi.

Getuk—olahan tradisional berbahan singkong—dipilih bukan tanpa alasan. Selain mudah didapat, makanan ini juga merepresentasikan kesederhanaan yang menjadi akar budaya masyarakat setempat.

Syawalan yang “Naik Kelas”

Tak seperti tradisi Syawalan pada umumnya, perayaan di Cepokokuning dipadukan dengan konsep wisata. Arak-arakan tumpeng menuju Kali Lojahan menjadi daya tarik tersendiri.

Di lokasi itu, warga dan pengunjung berkumpul, menikmati suasana alam sambil mencicipi getuk yang telah disiapkan.

Bagi pemerintah desa, ini bukan sekadar acara tahunan. Ini adalah strategi.

Kali Lojahan, yang sebelumnya hanya dikenal sebagai aliran sungai biasa, kini tengah disiapkan menjadi destinasi wisata air. Tradisi Syawalan menjadi “panggung awal” untuk memperkenalkannya ke publik.

Harapan Ekonomi dari Desa

Maryadi menegaskan, pengembangan wisata ini akan dikelola bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Tujuannya jelas: meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD) sekaligus kesejahteraan warga.

“Tiket masuk nantinya akan kembali ke masyarakat. Kami ingin dampaknya langsung terasa,” katanya.

Langkah ini juga menjadi solusi atas tantangan berkurangnya Dana Desa. Dengan mengoptimalkan potensi lokal—mulai dari wisata air, olahan singkong, hingga sektor peternakan—desa mencoba mandiri secara ekonomi.

Suara Pengunjung: Unik, Tapi Perlu Perbaikan

Bagi pengunjung, tradisi ini memberikan pengalaman berbeda. Fahmi dan Sinta, misalnya, mengaku baru pertama kali datang dan langsung terkesan.

“Ini unik, beda dari tempat lain. Ada tradisi, ada wisata air juga,” ujar Fahmi.

Namun, mereka juga memberi catatan. Akses jalan yang masih berlumpur dan minimnya fasilitas seperti gazebo menjadi pekerjaan rumah bagi pengelola.

“Kalau ditambah fasilitas, pasti makin ramai,” tambah Sinta.

Lebih dari Sekadar Tradisi

Sementara itu, perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Batang, Sutiksan, menilai potensi ini harus dikelola serius.

Ia bahkan menyebut, jika dikelola optimal, wisata ini bisa menjadi sumber pemasukan rutin bagi desa—bahkan berpotensi menjadi “THR” bagi warga di masa depan.

Menjaga Tradisi, Menjemput Masa Depan

Di tengah riuh tawa warga dan aroma getuk yang manis, tradisi ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal bisa berkembang tanpa kehilangan akar.

Tumpeng getuk bukan hanya simbol syukur setelah Idulfitri. Ia kini menjelma menjadi harapan—tentang desa yang mandiri, ekonomi yang tumbuh, dan tradisi yang tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Di Cepokokuning, Syawalan bukan sekadar penutup Lebaran. Ia adalah awal cerita baru.

author avatar
Patrazone

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button