Sains

China Bangun Superkomputer AI Pertama di Antariksa, Langkah Nyata Masa Depan Komputasi?

Patrazone.com — China kembali membuat gebrakan teknologi. Negara tersebut resmi memulai pembangunan konstelasi satelit berbasis kecerdasan buatan (AI) pertama di luar angkasa, proyek ambisius yang dinamakan Three-Body Computing Constellation.

Satelit pertamanya telah meluncur ke orbit pada Juni 2025, menandai awal dari era baru di mana pemrosesan data tak lagi bergantung sepenuhnya pada pusat data di Bumi.

“Ini bukan sekadar memindahkan server ke orbit. Ini adalah revolusi bagaimana manusia akan menggunakan dan mengembangkan kecerdasan buatan,” ujar Russell Hills, insinyur sistem luar angkasa, dikutip dari IFLScience, Jumat (10/10/2025).


Kenapa Harus di Antariksa?

Satu alasan utama di balik proyek ini adalah masalah klasik pusat data: konsumsi energi dan kebutuhan pendinginan yang tinggi.

Sebagai informasi, pusat data yang menjalankan sistem AI—seperti large language models (LLM)—memerlukan energi besar dan air dalam jumlah signifikan, terutama untuk mendinginkan server. Ini memberi tekanan besar pada sumber daya lokal dan memicu kekhawatiran terhadap emisi karbon.

“Konsumsi energi pusat data global melonjak drastis sejak era AI meledak. Komputasi di antariksa bisa menjadi solusi ramah lingkungan,” kata Hills.


Pendingin Alami dan Tenaga Surya

Dalam Three-Body Computing Constellation, China memanfaatkan vakum dingin di luar angkasa sebagai sistem pendinginan alami. Teknologi ini dianggap revolusioner karena mampu menurunkan kebutuhan energi tanpa menambah polusi di Bumi.

Superkomputer orbit ini ditargetkan dapat melakukan 1.000 peta operasi per detik, setara dengan satu kuintiliun operasi setiap detik — kapasitas yang cukup untuk mendukung berbagai aplikasi AI tingkat lanjut, termasuk simulasi antariksa dan komunikasi data berkecepatan tinggi.


Lebih dari Sekadar Inovasi

Meski terdengar seperti fiksi ilmiah, pembangunan pusat data di luar Bumi ini punya alasan strategis. Selain mengurangi jejak karbon, konstelasi ini juga dimaksudkan untuk memproses data di lingkungan antariksa itu sendiri — termasuk untuk kebutuhan eksplorasi luar angkasa, sistem satelit otonom, dan komunikasi cerdas antarbintang.

“China tidak hanya bicara efisiensi. Ini soal kesiapan teknologi menghadapi tantangan masa depan,” tambah Hills.


Bukan Satu-Satunya Pemain

China memang yang pertama meluncurkan superkomputer AI ke orbit, namun bukan satu-satunya yang tertarik. Sejumlah perusahaan teknologi global juga tengah mengembangkan konsep serupa, mengandalkan tenaga surya dan sistem pembuangan panas langsung ke ruang angkasa.

Namun, yang membedakan proyek China kali ini adalah fokus pada kemampuan pemrosesan, bukan pada pembangkitan energi di luar angkasa.


Masa Depan Komputasi Sudah Dimulai

Proyek ini menandai perubahan besar dalam dunia teknologi. Jika berhasil, pusat data di antariksa bisa menjadi pondasi baru bagi kemajuan AI global, sekaligus mengurangi beban ekologis di Bumi.

China sekali lagi membuktikan bahwa perlombaan teknologi tidak hanya berlangsung di daratan, tapi kini juga meluas hingga ke orbit luar angkasa.

author avatar
Patrazone

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button