Konsultasi

Gray Divorce di Usia Senja: Lansia Terancam Kesepian, Depresi, hingga Masalah Ekonomi

Patrazone.com – Fenomena perceraian di usia lanjut atau gray divorce semakin mendapat perhatian publik. Perpisahan yang terjadi ketika anak-anak telah dewasa dan mandiri kerap dianggap sebagai urusan pribadi. Namun, di balik keputusan tersebut, tersimpan dampak jangka panjang yang serius bagi kehidupan para lansia, mulai dari aspek psikologis, sosial, hingga ekonomi.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, dr Imran Pambudi, MPHM, menegaskan bahwa dampak gray divorce tidak bisa dilihat secara sempit dari sisi kesehatan fisik semata.

“Gray divorce harus dipandang secara komprehensif. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan, tetapi juga pada kesehatan mental, relasi sosial, dan keberlangsungan hidup lansia secara keseluruhan,” ujar Imran saat dihubungi, Selasa (16/12/2025).

Kehilangan Identitas dan Risiko Depresi

Dari sisi psikologis, perceraian setelah puluhan tahun menikah dapat memicu krisis identitas. Banyak lansia yang selama ini memaknai dirinya melalui peran sebagai suami atau istri.

“Ketika pernikahan berakhir, muncul kekosongan peran yang tidak sederhana. Ini bisa menimbulkan rasa kehilangan yang mendalam,” kata Imran.

Selain kehilangan pasangan hidup, lansia juga harus menghadapi hilangnya rutinitas, kebiasaan, serta kebersamaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Kondisi ini meningkatkan risiko kesepian, depresi, dan kecemasan.

“Memang ada sebagian kecil yang merasa lebih lega setelah bercerai, tetapi jumlahnya tidak besar. Secara umum, risiko gangguan kesehatan mental justru meningkat,” ujarnya.

Tekanan Sosial dan Kerentanan Ekonomi

Dampak gray divorce juga terasa kuat pada aspek sosial dan ekonomi. Perceraian di usia lanjut sering kali diikuti oleh penurunan stabilitas finansial, mulai dari pembagian aset, meningkatnya biaya hidup karena harus hidup terpisah, hingga keterbatasan kemampuan bekerja.

“Memulai kembali kehidupan ekonomi di usia lanjut jauh lebih berat dibandingkan saat masih muda,” kata Imran.

Relasi dengan anak-anak yang sudah dewasa pun dapat berubah. Dalam sejumlah kasus, anak harus mengambil peran sebagai penopang emosional maupun ekonomi bagi salah satu orang tua. Di sisi lain, jaringan pertemanan yang sebelumnya dibangun sebagai pasangan juga berpotensi terputus.

“Teman-teman yang selama ini hadir sebagai ‘teman pasangan’ bisa hilang. Ini meningkatkan risiko isolasi sosial di usia tua,” tambahnya.

Pentingnya Pendekatan Healthy Aging

Melihat kompleksitas tersebut, Kementerian Kesehatan mendorong penerapan pendekatan healthy aging dalam menyikapi fenomena gray divorce. Pendekatan ini menekankan pentingnya kesehatan fisik, kesehatan mental, dukungan sosial, kesiapan ekonomi, serta kebermaknaan hidup di usia lanjut.

“Dengan pendekatan yang menyeluruh, baik lansia yang mempertahankan pernikahan maupun yang telah bercerai tetap memiliki peluang untuk menjalani masa tua dengan kualitas hidup yang baik,” ujar Imran.

author avatar
Patrazone

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button