Women

Kisah Wanita Inggris yang Tertawa Tak Terkendali, Ternyata Akibat Lesi Otak Jinak Sejak Lahir

Patrazone.com – Seorang perempuan berusia 31 tahun di Inggris mengalami tawa tak terkendali, meski tidak merasa senang. Kondisi ini sudah dialami sejak bayi, namun baru mendapatkan diagnosis resmi saat dewasa.


Gejala yang Dialami

Pasien mengaku mengalami sensasi takut dan ketidaknyamanan di leher dan dada sebelum episode tawa muncul. Saat tawa datang, ia tidak bisa berbicara, menelan, bahkan bernapas dengan normal.

  • Episode berlangsung beberapa detik hingga satu kali sehari.
  • Umumnya terjadi pagi hari setelah bangun tidur.
  • Dulu, episode bisa bertahan 2โ€“3 menit, kini menyusut menjadi 1โ€“2 detik.

Orang tuanya sempat mengira perilaku ini disengaja, sehingga sering menegurnya saat masih anak-anak.


Pemeriksaan Medis dan Diagnosis

Pemeriksaan MRI dan EEG awal tidak menunjukkan kelainan. Namun, melalui video rekaman episode, dokter menduga pasien mengalami kejang gelastikโ€”jenis kejang yang memicu ledakan tawa atau senyum tak terkendali.

MRI ulang mengungkap adanya lesi kecil 5 mm di hipotalamus, struktur penting untuk menjaga keseimbangan fungsi tubuh. Lesi ini dikategorikan sebagai hamartoma hipotalamus, yaitu tumor jinak non-kanker yang terbentuk sejak janin.


Kejang Gelastik dan Mekanismenya

Kejang gelastik ditandai dengan:

  • Ledakan tawa tiba-tiba meski pengidap tetap sadar.
  • Tidak bisa mengendalikan tindakannya.

Mekanisme pasti lesi hipotalamus memicu tawa masih belum sepenuhnya dipahami, namun hal ini merupakan ciri khas kelainan tersebut.


Pengobatan dan Keputusan Pasien

Pasien sempat diberi obat anti-kejang standar epilepsi, namun tidak menunjukkan efek. Karena gejala saat ini ringan dan frekuensinya menurun, pasien memutuskan tidak melanjutkan pengobatan dan tetap menjalani hidup normal.

  • Tidak ada gangguan perilaku atau kognitif lain.
  • Tingkat keparahan serangan terus menurun seiring waktu.
  • Dokter menyimpulkan terapi tambahan tidak diperlukan.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa tidak semua gejala medis yang unik berarti perilaku disengaja, dan diagnosis tepat memerlukan pemeriksaan menyeluruh.

author avatar
Patrazone

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button