Daya Beli Melemah, Ekonom BRI Ungkap Tantangan Utama Ekonomi Indonesia 2026

Patrazone.com – Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,4 persen pada 2026. Namun, di balik optimisme tersebut, tantangan mendasar berupa pelemahan daya beli masyarakat kelas menengah-bawah masih menjadi ganjalan serius bagi pemulihan ekonomi nasional.
Dalam laporan BRI Economic Outlook 2026, Tim Ekonom PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mengidentifikasi tiga indikator utama yang menunjukkan daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih, bahkan cenderung melemah dibandingkan periode pra-pandemi.
1. Gaji Riil di Bawah UMR
Indikator pertama terlihat dari rasio rata-rata gaji bulanan bersih terhadap Upah Minimum Regional (UMR) yang terus menurun. Berdasarkan data olahan Tim Ekonom BRI, sejak 2020 rata-rata gaji bersih pekerja berada di bawah UMR yang ditetapkan pemerintah.
Meski sempat mengalami perbaikan pada 2022, tren tersebut kembali menurun hingga data terakhir pada 2024. Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan upah minimum belum sepenuhnya diikuti peningkatan pendapatan riil masyarakat.
2. Inflasi Rendah karena Permintaan Lemah
Indikator kedua tercermin dari anomali inflasi. Menurut analisis BRI, rendahnya inflasi saat ini bukan semata hasil keberhasilan pengendalian harga, melainkan cerminan melemahnya tekanan permintaan (demand pull).
Grafik kontribusi inflasi menunjukkan bahwa penurunan inflasi lebih banyak disumbang oleh anjloknya daya beli masyarakat, bukan karena perbaikan dari sisi pasokan. Artinya, konsumsi rumah tangga—motor utama pertumbuhan ekonomi—belum kembali normal.
3. Dampak Ekonomi Tak Merata
Indikator ketiga adalah ketimpangan dampak ekonomi antarkelompok pendapatan. Pelemahan daya beli paling terasa pada kelompok menengah-bawah, sementara kelompok atas masih memiliki bantalan likuiditas yang relatif kuat.
Indeks daya beli per kelas ekonomi menunjukkan divergensi yang jelas. Kelompok menengah-bawah tercatat berada di zona negatif, padahal segmen ini merupakan penopang utama volume konsumsi nasional.
“Berbagai indikator daya beli domestik cenderung melemah dibandingkan periode pra-pandemi dan menjadi tantangan utama perekonomian saat ini,” tulis Tim Ekonom BRI dalam laporannya, Selasa (13/1/2026).
Stimulus Tepat Sasaran Jadi Kunci
BRI menilai, tanpa stimulus yang tepat sasaran bagi kelas menengah-bawah, pemulihan ekonomi 2026 akan sulit tercapai secara berkelanjutan. Konsumsi rumah tangga yang lemah berpotensi menahan laju pertumbuhan, meski indikator makro lainnya terlihat stabil.
Laporan ini menjadi pengingat bahwa menjaga daya beli masyarakat bukan hanya soal inflasi rendah, tetapi juga kualitas pendapatan dan pemerataan pemulihan ekonomi.



