Patrazone.com — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan kontribusi terhadap nilai ekonomi digital nasional mencapai Rp 155,57 triliun pada 2026. Target ambisius ini ditopang oleh konsolidasi sektor telekomunikasi, penguatan infrastruktur digital, serta meningkatnya kebutuhan layanan digital pemerintahan (government technology/GovTech).
Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), Sarwoto Atmosutarno, menilai sektor telekomunikasi masih menjadi tulang punggung utama pencapaian target tersebut. Konsolidasi yang dilakukan tiga operator besar—Telkom Indonesia, Indosat Ooredoo Hutchison, dan XLSMART Telecom Sejahtera—dinilai memperkuat fondasi ekonomi digital nasional.
“Konsolidasi ini mencakup jaringan fiber optik, satelit, BTS, hingga pusat data. Itu memperkuat infrastruktur digital secara menyeluruh,” ujar Sarwoto, Rabu (14/1/2026).
Operator Bertransformasi Jadi Techco
Sarwoto menyoroti perubahan arah bisnis operator telekomunikasi yang kini tak lagi sebatas penyedia jaringan, melainkan bertransformasi menjadi perusahaan teknologi (techco).
Mereka mulai agresif masuk ke layanan Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), cloud computing, hingga keamanan siber, yang dinilai memberikan nilai tambah signifikan bagi ekonomi digital nasional.
Di sisi lain, penataan regulasi juga disebut menjadi faktor krusial. Sarwoto menilai perlu ada keseimbangan aturan antara layanan over the top (OTT) dan penyelenggara telekomunikasi agar iklim usaha tetap sehat dan berkelanjutan.
“Penyesuaian beban regulasi, baik di pusat maupun daerah, akan membuka ruang pertumbuhan yang lebih rasional bagi industri,” katanya.
Teknologi Antariksa hingga GovTech Jadi Sumber Baru
Selain telekomunikasi, Sarwoto melihat potensi pertumbuhan ekonomi digital dari teknologi antariksa, seperti layanan satelit low earth orbit (LEO) dan non-terrestrial network (NTN). Pemanfaatan remote sensing dan pemetaan digital juga dinilai mampu mendorong digitalisasi lintas sektor.
Namun, sektor yang diprediksi semakin dominan adalah GovTech.
“Kebutuhan layanan digital pemerintahan menjadi salah satu penggerak utama nilai tambah ekonomi digital ke depan,” ujar Sarwoto.
Target Dinilai Moderat dan Realistis
Sarwoto menilai target Komdigi disusun dengan pendekatan moderat dan berbasis nilai tambah. Rentang kontribusi ekonomi digital dari Rp 137,89 triliun pada 2025 hingga Rp 206,16 triliun pada 2029 mencerminkan asumsi pertumbuhan rata-rata 10–12 persen per tahun.
Angka tersebut diproyeksikan lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nasional yang berada di kisaran 5–8 persen.
“Pendekatan ini konservatif, tetapi tetap realistis,” ujarnya.
Peta Jalan Ekonomi Digital 2025–2029
Dalam Renstra Komdigi 2025–2029, kontribusi ekonomi digital ditargetkan meningkat bertahap:
- 2025: Rp 137,89 triliun
- 2026: Rp 155,57 triliun
- 2027: Rp 172,43 triliun
- 2028: Rp 189,30 triliun
- 2029: Rp 206,16 triliun
Komdigi juga menargetkan peningkatan Indeks Transformasi Digital Nasional (TDN) pada berbagai pilar, termasuk bisnis, jaringan dan infrastruktur, serta masyarakat digital. Kontribusi sektor informasi dan komunikasi terhadap PDB dipatok stabil di 4,3 persen hingga 2028, sebelum naik menjadi 4,4 persen pada 2029.
Seluruh target tersebut diarahkan untuk mewujudkan konektivitas digital yang inklusif, ekosistem digital yang memberdayakan, serta ruang digital yang aman dan berdaulat.
