Teknologi

UMKM Terdesak Produk Impor Murah di E-Commerce, Pedagang Lokal Mengaku Kalah Harga

Patrazone.com — Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berjualan di platform e-commerce kian tertekan oleh membanjirnya produk impor murah. Kondisi ini membuat pedagang lokal kesulitan bersaing, bahkan sebagian terpaksa menghentikan usahanya.

Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencatat, sekitar 90 persen produk yang beredar di e-commerce masih didominasi barang impor, terutama dari China. Produk-produk tersebut dijual dengan harga sangat rendah dan sulit ditandingi oleh penjual dalam negeri.


Penjualan Turun Drastis

Salah satu pedagang online, Aldo (30), mengaku penjualannya menurun signifikan seiring meningkatnya persaingan dari toko luar negeri di berbagai platform, seperti Shopee, TikTok Shop, dan Lazada.

“Seller asing buka akun di marketplace Indonesia untuk menangin pasar, tapi produksinya di China,” ujar Aldo, Sabtu (7/2/2026).

Aldo yang telah delapan tahun berjualan online menilai, pelaku usaha lokal kini dituntut memiliki modal besar agar bisa bertahan. Produksi dalam skala besar menjadi satu-satunya cara untuk menekan harga jual, namun hal tersebut tidak mudah bagi UMKM.


Produk Lokal Kalah di Harga

Selain perang harga, Aldo dan komunitas penjual juga menyoroti praktik cloning produk, yakni peniruan barang-barang terlaris di Indonesia yang kemudian diproduksi massal di luar negeri.

“Bentuknya memang tidak sama persis, tapi yang jadi masalah itu harga jualnya,” kata Aldo.

Menurutnya, harga pokok penjualan (HPP) di Indonesia relatif lebih tinggi dibandingkan negara lain yang mendapat dukungan kuat dari pemerintahnya, seperti China, Vietnam, dan Filipina.

“Kalau bicara harga, seller Indonesia hampir pasti kalah,” ujarnya.


Bahan Baku Naik, Harga Jual Tertekan

Tekanan semakin berat karena sebagian besar bahan baku industri lokal masih bergantung pada impor, seperti tekstil. Kenaikan harga bahan baku seharusnya mendorong harga jual naik, tetapi kenyataannya harga produk justru terus ditekan oleh banjir barang impor murah.

Di sisi lain, konsumen cenderung memilih produk dengan harga terendah selama kualitas dianggap memadai. Situasi ini membuat banyak penjual lokal kehilangan pasar dan pendapatan.


Impor Dipromosikan, UMKM Kian Terjepit

Aldo juga menyoroti maraknya konten media sosial yang mendorong masyarakat melakukan impor dengan janji keuntungan besar. Menurutnya, tren tersebut sering berujung pada penjualan kelas “edukasi impor” yang justru berpotensi memperburuk kondisi ekonomi nasional.

Ia berharap pemerintah memperkuat edukasi dan pendampingan UMKM, terutama agar pelaku usaha lokal mampu menembus pasar ekspor dan meningkatkan daya saing.


Dominasi Impor Masih Kuat

Data Kementerian UMKM menunjukkan, dominasi produk impor di e-commerce mencakup barang dengan harga tak wajar, seperti kerudung Rp 6.997 per buah, kemeja Rp 20.000, hingga pakaian bekas impor yang dijual Rp 600.000 per 20 potong.

Sementara itu, kontribusi UMKM terhadap ekspor nonmigas nasional baru mencapai 15,7 persen, dengan partisipasi Indonesia dalam global value chain masih di level 4,1 persen. Kondisi ini menjadi tantangan besar mengingat 99,71 persen UMKM nasional masih didominasi usaha mikro.

author avatar
Patrazone

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button