Industri Baja Nasional Waspada Gangguan Logistik dan Energi Akibat Konflik Timur Tengah

Patrazone.com — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat industri besi dan baja nasional menatap masa depan dengan penuh kewaspadaan. Konflik yang tengah berlangsung di kawasan itu berpotensi mengganggu jalur perdagangan global, meningkatkan biaya logistik, dan memengaruhi stabilitas rantai pasok industri manufaktur, termasuk sektor baja.

Harry Warganegara, Direktur Eksekutif Indonesia Iron and Steel Association (IISIA), mengatakan, salah satu risiko yang harus diantisipasi adalah terganggunya jalur pelayaran strategis dunia, seperti Selat Hormuz, yang menjadi penghubung distribusi energi dan perdagangan internasional.

“Konflik tersebut tetap berpotensi memberi dampak tidak langsung melalui gangguan rantai pasok energi global dan logistik perdagangan internasional seperti Selat Hormuz,” ujar Harry kepada Bisnis, Jumat (13/3/2026).


Fokus pada Energi dan Logistik

Harry menegaskan, bagi industri baja nasional, dampak konflik lebih banyak berkaitan dengan stabilitas energi dan dinamika pasar global dibandingkan ketergantungan bahan baku dari kawasan Timur Tengah. Pasalnya, energi menjadi salah satu komponen utama dalam produksi baja, sehingga fluktuasi harga minyak dan gas berimbas langsung pada biaya produksi.

“Bagi industri baja nasional, dampak konflik Timur Tengah lebih berkaitan dengan stabilitas energi, logistik, dan dinamika pasar global, bukan karena ketergantungan langsung terhadap pasokan sulfur sebagai bahan baku,” jelasnya.

Ia menambahkan, isu terkait pasokan sulfur tidak akan memberikan tekanan signifikan terhadap industri baja di Indonesia. Sebab, unsur ini bukan bahan baku utama dalam produksi baja, justru harus dikendalikan agar kualitas logam tetap terjaga.

“Sulfur umumnya harus dikurangi dari logam cair supaya kualitas baja tetap baik. Pengaruhnya terhadap industri besi dan baja relatif terbatas dibandingkan sektor lain,” kata Harry.


Persiapan Menghadapi Ketidakpastian

Ke depan, pelaku industri akan lebih fokus mengantisipasi potensi fluktuasi harga energi, kenaikan biaya logistik, serta perubahan kondisi pasar baja global jika konflik di Timur Tengah berlangsung lama. Para pengusaha juga tengah mengevaluasi strategi mitigasi risiko agar rantai pasok tetap berjalan lancar.

Situasi ini menegaskan bahwa meski pasokan bahan baku relatif aman, gejolak global tetap bisa berdampak pada produksi dan harga jual baja di dalam negeri. Para pemain industri diharapkan sigap menyesuaikan strategi agar ketahanan produksi tetap terjaga, sekaligus menjaga daya saing produk baja nasional di pasar global.

Patrazone
Exit mobile version