Ahli Tambang: Pembatasan Produksi Nikel Saprolit Lebih Mendesak daripada Limonit

Patrazone.com – Wacana pemerintah mengenai pemangkasan produksi nikel pada 2026 menjadi sorotan para ahli pertambangan. Mereka menekankan, kebijakan itu tidak seharusnya diterapkan secara seragam untuk semua jenis bijih nikel.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mengkaji langkah tersebut untuk menjaga keseimbangan pasar, meski angka produksi tahun depan belum diumumkan.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Sudirman Widhy, menilai, pemangkasan harus memperhatikan tipe bijih nikel. “Cadangan nikel Indonesia terbagi menjadi nikel limonit (kadar rendah) dan nikel saprolit (kadar tinggi),” ujarnya, Jumat (26/12/2025).

Karakter Bijih Nikel yang Berbeda

“Pembatasan produksi sebaiknya fokus pada saprolit berkadar tinggi, karena cadangannya lebih terbatas, sekitar 10 tahun. Sedangkan limonit memiliki ketahanan lebih dari 20 tahun dan sebaiknya tetap diproduksi,” tambah Sudirman.

Dampak Pembatasan Limonit

Sudirman memperingatkan, membatasi produksi limonit bisa berdampak negatif:

Selain itu, pemanfaatan limonit juga meningkatkan efisiensi sumber daya karena seluruh profil laterit bisa digunakan, sesuai prinsip good mining practice.

Kebutuhan Produksi 2026

Sudirman menegaskan, kebijakan nikel Indonesia idealnya berbasis tipe bijih dan teknologi pengolahan, mengingat kedua bijih memiliki peran strategis berbeda dalam rantai nilai industri.

Patrazone
Exit mobile version