Makro

Ahli Tambang: Pembatasan Produksi Nikel Saprolit Lebih Mendesak daripada Limonit

Patrazone.com – Wacana pemerintah mengenai pemangkasan produksi nikel pada 2026 menjadi sorotan para ahli pertambangan. Mereka menekankan, kebijakan itu tidak seharusnya diterapkan secara seragam untuk semua jenis bijih nikel.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mengkaji langkah tersebut untuk menjaga keseimbangan pasar, meski angka produksi tahun depan belum diumumkan.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Sudirman Widhy, menilai, pemangkasan harus memperhatikan tipe bijih nikel. “Cadangan nikel Indonesia terbagi menjadi nikel limonit (kadar rendah) dan nikel saprolit (kadar tinggi),” ujarnya, Jumat (26/12/2025).

Karakter Bijih Nikel yang Berbeda

  • Nikel Limonit
    • Kadar nikel < ±1,3% Ni
    • Kandungan besi dan air tinggi, magnesium rendah
    • Tidak ekonomis diolah lewat pirometalurgi (smelter)
    • Cocok untuk pabrik hidrometalurgi, terutama teknologi HPAL, menghasilkan MHP/MSP untuk baterai kendaraan listrik
  • Nikel Saprolit
    • Kadar nikel > ±1,5% Ni
    • Magnesium tinggi, besi rendah
    • Ideal untuk pirometalurgi, menghasilkan NPI dan feronikel, andalan industri stainless steel

“Pembatasan produksi sebaiknya fokus pada saprolit berkadar tinggi, karena cadangannya lebih terbatas, sekitar 10 tahun. Sedangkan limonit memiliki ketahanan lebih dari 20 tahun dan sebaiknya tetap diproduksi,” tambah Sudirman.

Dampak Pembatasan Limonit

Sudirman memperingatkan, membatasi produksi limonit bisa berdampak negatif:

  • Biaya penambangan meningkat karena overburden tidak termonetisasi
  • Potensi royalti hilang
  • Pasokan bahan baku HPAL terhambat, menghambat hilirisasi nikel untuk baterai listrik

Selain itu, pemanfaatan limonit juga meningkatkan efisiensi sumber daya karena seluruh profil laterit bisa digunakan, sesuai prinsip good mining practice.

Kebutuhan Produksi 2026

  • Nikel saprolit: 220–240 juta ton
  • Nikel limonit: ±120 juta ton

Sudirman menegaskan, kebijakan nikel Indonesia idealnya berbasis tipe bijih dan teknologi pengolahan, mengingat kedua bijih memiliki peran strategis berbeda dalam rantai nilai industri.

author avatar
Patrazone

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button