Di tengah padatnya kota besar dan harga properti yang terus melambung, generasi Milenial dan Gen Z mulai mengambil langkah berbeda. Mereka tidak lagi terpaku pada hunian di pusat kota, melainkan melirik kawasan suburban—daerah penyangga yang menawarkan keseimbangan antara harga, akses, dan kualitas hidup.
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Ia mencerminkan perubahan cara pandang generasi muda terhadap rumah: bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga instrumen keuangan jangka panjang.
Rumah Bukan Sekadar Tempat Tinggal
Marketing Director Agung Podomoro Land, Yenti Lokat, menyebut bahwa generasi saat ini semakin rasional dalam mengambil keputusan finansial, termasuk dalam membeli rumah.
“Masyarakat kini lebih memprioritaskan kebutuhan utama. Rumah tidak hanya untuk ditinggali, tetapi juga sebagai aset jangka panjang,” ujarnya.
Bagi pembeli rumah pertama, ada empat faktor utama yang menjadi pertimbangan: harga terjangkau, aksesibilitas, potensi kenaikan nilai, serta rekam jejak pengembang.
Artinya, keputusan membeli rumah kini tidak lagi emosional, tetapi berbasis kalkulasi.
Suburban Jadi Primadona Baru
Kawasan suburban menawarkan sesuatu yang sulit ditemukan di pusat kota: harga yang lebih masuk akal dengan ruang hidup yang lebih luas.
Ditambah dengan semakin baiknya infrastruktur dan konektivitas transportasi, jarak ke pusat kota bukan lagi hambatan utama.
Sejumlah riset properti bahkan memprediksi tren ini akan terus menguat. Permintaan rumah tapak diproyeksikan tumbuh sekitar 5–6 persen pada 2026, didorong berbagai insentif pemerintah seperti PPN ditanggung pemerintah (PPN DTP) serta suku bunga yang lebih kompetitif.
Dengan kata lain, momentum untuk membeli rumah sedang terbuka.
Dilema Generasi Muda: Beli atau Sewa?
Namun di sisi lain, tidak sedikit generasi muda yang masih ragu untuk membeli rumah.
CEO ERA Indonesia, Darmadi Darmawangsa, mengungkapkan bahwa sebagian Milenial dan Gen Z masih memilih menyewa karena mempertimbangkan fleksibilitas dan kondisi finansial.
Padahal, menunda keputusan membeli rumah bisa menjadi risiko tersendiri.
“Kalau terlalu lama ditunda, harga properti terus naik. Akan semakin sulit mengejar,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa nilai uang dapat tergerus inflasi. Tanpa dikonversi ke aset riil seperti properti, daya beli bisa terus menurun.
Peluang di Tengah Kenaikan Harga
Menariknya, saat ini harga properti dinilai belum sepenuhnya mengikuti lonjakan nilai dolar AS. Hal ini membuka peluang bagi masyarakat untuk masuk ke pasar properti sebelum harga benar-benar melonjak lebih tinggi.
Bagi mereka yang jeli, ini bisa menjadi momen strategis untuk membeli rumah pertama.
Hunian Terjangkau, Konsep Kekinian
Melihat tren tersebut, pengembang mulai menyesuaikan diri. Salah satunya melalui proyek Kota Podomoro Tenjo yang dikembangkan di atas lahan lebih dari 650 hektare.
Salah satu klaster terbarunya, Midori at Cluster Mahogany, menawarkan konsep hunian bergaya Jepang dengan harga mulai dari Rp270 jutaan—angka yang relatif terjangkau bagi pembeli rumah pertama.
Sejauh ini, ribuan unit telah terbangun dan sebagian sudah dihuni, menandakan tingginya minat pasar terhadap hunian di kawasan penyangga.
Pergeseran Gaya Hidup
Perubahan preferensi ini pada akhirnya bukan hanya soal lokasi, tetapi juga gaya hidup.
Generasi muda kini mencari hunian yang tidak hanya dekat dengan pusat aktivitas, tetapi juga memberikan kualitas hidup: lingkungan yang lebih tenang, ruang yang lebih luas, dan akses yang tetap terhubung.
Rumah bukan lagi sekadar alamat—melainkan bagian dari strategi hidup.
Di tengah dinamika ekonomi dan tekanan harga, pilihan Milenial dan Gen Z menunjukkan satu hal: mereka tidak sekadar mengikuti tren, tetapi mulai membangun masa depan dengan cara yang lebih terukur.
Dan mungkin, masa depan hunian Indonesia memang tidak lagi berada di pusat kota—melainkan tumbuh dari pinggirannya.
