Nasional

Ziarah Pemimpin Terdahulu, Wali Kota Pekalongan Ajak ASN Teladani Dedikasi: “Pengabdian Tak Boleh Putus”

Patrazone.com – Suasana khidmat menyelimuti kompleks pemakaman di Kota Pekalongan, Rabu siang (1/4/2026). Di tengah langkah pelan dan doa yang lirih, Wali Kota Pekalongan, Afzan Arslan Djunaid, berdiri sejenak di hadapan pusara para pemimpin terdahulu.

Bagi pria yang akrab disapa Aaf itu, ziarah ini bukan sekadar rutinitas seremonial dalam rangka Hari Jadi ke-120 Kota Pekalongan. Lebih dari itu, ini adalah perjalanan batin—napak tilas sejarah, penghormatan, sekaligus pengingat akan tanggung jawab besar yang kini ia emban.

“Ini bukan hanya mengenang, tapi juga belajar dari jejak mereka,” ujar Aaf.


Dari Masa Lalu untuk Masa Depan

Ziarah dilakukan ke sejumlah makam tokoh penting yang pernah memimpin Kota Pekalongan. Di antaranya makam R. Teguh Soenarjo, Hamzah Shodiq, M. Basyir Ahmad Syawie, Achmad Alf Arslan Djunaid, hingga Mochammad Chaeron.

Setiap nama bukan sekadar catatan sejarah. Mereka adalah bagian dari fondasi kota—pemimpin yang pernah mengambil keputusan, menghadapi krisis, dan membangun arah bagi Pekalongan hari ini.

“Pasti ada program dan pemikiran beliau yang sampai sekarang masih dirasakan manfaatnya,” kata Aaf.

Dalam keheningan makam, tersimpan pesan kuat: pembangunan bukan dimulai dari nol, melainkan dari kesinambungan.


ASN Diminta Menjadi Penerus, Bukan Sekadar Pelaksana

Momentum ini juga menjadi panggilan bagi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Pekalongan.

Aaf menegaskan, ASN bukan hanya pelaksana birokrasi, tetapi juga penerus nilai-nilai pengabdian. Ia mengajak seluruh jajarannya untuk menghadirkan kebijakan dan pelayanan yang benar-benar berdampak bagi masyarakat.

“Kita harus melakukan sesuatu yang bermanfaat. Itu yang paling penting,” tegasnya.

Pesan itu sederhana, tetapi kuat: jabatan boleh berganti, tetapi semangat melayani tidak boleh pudar.


Napak Tilas yang Menghidupkan Semangat

Kegiatan ini juga diikuti Ketua TP PKK Hj Inggit Soraya, Sekda Nur Priyantomo, serta jajaran pejabat lainnya. Bukan sekadar hadir, mereka diajak untuk merasakan langsung makna perjalanan kepemimpinan lintas generasi.

Ziarah ini menjadi semacam “kelas sunyi”—tempat belajar tanpa kata-kata, tetapi penuh makna.

Di sana, para pemimpin masa kini diingatkan bahwa setiap kebijakan hari ini akan menjadi warisan di masa depan.


Menguatkan Ikatan, Menghargai Jasa

Tak berhenti di ziarah, Pemerintah Kota Pekalongan juga berencana melanjutkan agenda silaturahmi ke kediaman mantan Wali Kota, H. Samsudiat, di Solo.

Langkah ini menjadi simbol penting: menghargai pemimpin tidak hanya saat mereka tiada, tetapi juga saat mereka masih hidup.

“Banyak program beliau yang masih dirasakan sampai sekarang,” ungkap Aaf.


Hari Jadi ke-120: Lebih dari Sekadar Perayaan

Bagi Pemerintah Kota Pekalongan, peringatan hari jadi bukan hanya panggung selebrasi. Ini adalah momentum refleksi—tentang apa yang sudah dicapai, dan apa yang masih harus diperjuangkan.

Di usia ke-120, kota ini dihadapkan pada tantangan baru. Namun dengan meneladani integritas, dedikasi, dan semangat para pemimpin terdahulu, optimisme tetap terjaga.

“Semoga ini menambah semangat untuk generasi penerus,” kata Aaf.


Dari Makam, Lahir Komitmen Baru

Di antara taburan bunga dan doa yang dipanjatkan, terselip harapan besar: agar Pekalongan terus melangkah maju tanpa melupakan akar sejarahnya.

Karena pada akhirnya, sebuah kota tidak hanya dibangun oleh beton dan jalan, tetapi juga oleh nilai, keteladanan, dan pengabdian yang diwariskan dari generasi ke generasi.

author avatar
Patrazone

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button